Rabu, 10 Mei 2017

MOTOR LITERASI DAN KPK



Oleh Rona Gokma Auldia

Hari ini saya pergi berkunjung ke KPK. Saya bisa pergi ke sana karena diajak oleh papa genk Moli, pak Firman Venayaksa. Saya pergi ke tempat itu bersama teman-teman moliwan lainnya, diantaranya ada  Zaenal,  Ivan, Aldi, dan Pak Firman Sendiri. Awalnya ketika kemarin setelah rapat akbar Moli untuk acara Tour Literasi ke Warung Banten, ia mengajak kami untuk ikut ke KPK. Saya sempat tidak ingin ikut karena pak Firman mengatakan bahwa besok akan berangkat dari Rumah Dunia pukul 10:00 WIB yang berarti pada saat itu saya baru saja selesai mata kuliah pertama. Selanjutnya pukul 13:00 WIB akan dilanjut lagi dengan mata kuliah Bahasa Inggris. Hal inilah yang menjadi dasar pertimbangan saya menolak tawaran pak Firman untuk ikut bersamanya ke KPK walaupun sebenarnya saya tertarik untuk ikut karena saya yakin akan mendapatkan pengalaman yang berharga di sana yang mungkin teman-teman lainnya tidak miliki. Hal lainnya adalah karena MoLi ini bekerja sama dengan KPK, masa iya, saya sebagai anggota relawan Moli tidak pernah silaturrahmi ke tempat rekan kerja.

Keesokan harinya ketika saya kuliah pagi, ternyata dosennya belum datang juga sampai pukul 09:00 WIB, saya kembali berpikir apakah saya ikut saja ke KPK atau tetap melanjutkan kuliah, eh ternyata dosennya datang di jam-jam terakhir mata kuliah ingin berakhir. Saya kembali ragu jika ingin ikut, karena khawatir waktunya tidak akan terkejar jika saya memaksakan untuk ikut. Karena dosen itu selesai mengajar pukul sepuluh. Akhirnya saya meminta kepada Pak Firman untuk memberikan toleransi waktu untuk terlambat agar saya bisa ikut, dan ternyata ia mau menunggu saya dan teman saya Fakhry. Senangnya. Tetapi ketika sudah selesai kuliah dan ingin ke rumah dunia, Fakhry mengabarkan ke saya kalau dirinya tidak bisa ikut dikarenakan ada sesuatu yang gawat di kosannya. Akhirnya saya pergi sendiri ke Rumah Dunia. Saya tidak mengikuti mata kuliah yang ke dua, Bahasa Inggris. Di tengah perjalanan, saya mendapat kabar dari grup WA kelas bahwa mata kuliah bahasa Inggris diganti hari esok. Yeaay! Saya merasa beruntung telah membuat keputusan yang tepat dengan ikut ke KPK. Tak lama saya sampai di rumah dunia kami langsung berangkat ke tempat tujuan, kali ini kami tidak membawa motor ke Jakarta seperti yang kami lakukan bersama komunitas motor kami, Motor Literaasi melainkan memakai kendaraan pribadi milik papa genk Moli. Untuk memecahkan kebosanan, sepanjang perjalanan kami nikmati dengan mengobrol-ngobrol renyah satu sama lain.
Jadwal pertemuan pak Firman dengan pihak KPK pukul satu siang di gedung KPK yang baru, gedung Merah Putih. Selain menjadi kantor, Gedung Merah Putih ini merupakan tempatnya para tahanan KPK. Tetapi kami tiba di tempat pukul satu lebih lima belas menit. Setibanya kami di gedung Merah Putih, Moli tidak pernah melupakan kebiasaannya untuk always eksis di dunia maya, yaitu take a picture and shared it to Moli group.

Kami masuk ke KPK, semua barang bawaan kita harus di cek di sana supaya aman, mungkin. Karena kita tahu orang-orang KPK ini merupakan orang-orang hebat yang lumayan tidak disukai banyak pihak karena terlalu jujur mungkin dalam memberantas korupsi, hehe. Mengingat kejadian beberapa waktu belakangan ini Novel Baswedan, bagian dari KPK yang disiram air keras setelah melakukan ibadah salat subuh di rumahnya. Kami menyerahkan KTP kami kepada resepsionis di sana untuk ditukar dengan kartu khusus untuk tamu KPK. Gedung KPK ini canggih menurut saya, karena kita harus menggunakan kartu itu supaya bisa masuk ke ruangan mana pun yang ada di sana. Jadi, tidak bisa sembarangan orang yang memasuki wilayah KPK. Kalau tidak punya kartu itu, kita hanya bisa sampai ruang depan saja. Semua akses pintu sudah diatur dengan sistem yang keren. Coba kalau Untirta seperti itu, hehe.

Di dalam ruang rapat, saya dan rekan-rekan mahasiswa yang ikut bersama pak Firman hanya duduk di sekitar mereka dan menyimak apa yang sedang mereka diskusikan. Saya kagum dengan mereka semua, Pak Firman, Mbak Melvi, Kang Sandry, Direktur Dikyanmas dan segenap pihak KPK yang tadi ikut rapat. Mereka semua adalah orang-orang hebat yang turut berpartisipasi untuk kemajuan bangsanya. Konsep yang mereka miliki untuk mendistribusikan ribuan bahkan puluhan ribu buku supaya tidak ada lagi daerah tertinggal yang kekurangan pasokan buku bacaan sangat luar biasa. Semangat mereka sangat berapi-api. Niat mereka sangat tulus dan mulia. Mereka sudah membuktikan dengan banyak membaca bisa membuat dan mengubah diri sendiri menjadi lebih baik dan dengan tulisan bisa mengubah dunia, seperti kalimat yang tertulis di rumah dunia. Saya sangat tertarik ketika seorang direktur KPK bicara seperti ini “waktu itu saya pergi ke Afrika bawa tiga ratus buku untuk dibagikan di sana, tetapi sebelum sampai ke Afrika, saya transit dulu di Eropa”, lalu ditimpali mba Melvi “iya, itu saya kemarin juga sebelum ketemu pak Jokowi saya habis dari Malaysia (kalau tidak salah dengar), minggu ini saya mau bawa buku KPK ke Singapura untuk dikenalkan di sana”. Waw, saya terheran-heran karena mereka menceritakan perjalanan mereka ke luar negeri seperti sedang menceritakan perjalanan sehari-hari saya dari Bekasi-Ciwaru yang harus transit ke Pakupatan terlebih dahulu, tetapi mereka sudah berada di level atas. Jadinya gimana ya, saya kagum. Saya ingin seperti mereka yang memberikan dampak positif bagi negara. Kelak saya akan seperti mereka, Amin.

Ternyata sangat berbeda ketika melihat KPK yang sedang rapat dengan organisasi-organisasi yang lain. KPK sangat to the point ketika rapat dan waktu yang mereka punya untuk rapat benar-benar dimanfaatkan dengan baik dan langsung mendapatkan hasil yang sangat brilian. Suasana waktu rapat juga santai, tidak kaku tetapi tetap mendapatkan hasil yang baik setelah rapat.

Selesai rapat, kami kembali ke meja resepsionis untuk mengambil KTP kami dan mengambil satu dua foto untuk kenang-kenangan dari sana. Kami mengantarkan mba Melvi ke tempat kerjanya di Kompas Gramedia Palmerah sekalian “ngerampok” buku untuk Moli sumbangkan nanti pada tanggal 13-14 Mei di Warung Banten. Kami membawa 1 dus buku yang berisi 69 eksemplar buku. Setelah itu kami pulang. Kami rehat sejenak di rest area untuk mengisi amunisi. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami kembali ke Serang. Di perjalanan, sepertinya Pak Firman memang sengaja menyiapkan sebuah film dokumentasi tentang Dauzan Farook untuk kami tonton, seorang veteran dan aktivis Muhammadiyah berumur 79 tahun yang di masa tuanya masih berjuang mengembangkan minat baca di daerah Yogyakarta. Ia berkegiatan sejak tahun 1993. Saya merinding dengan kegigihan Simbah. Pak Firman menambahkan bahwa ketika kuliah, dia mendatangi rumah Dauzan Farook untuk belajar gerakan literasi kepadanya.

Setelah film usai, kami tiba di Rumah Dunia dengan keadaan selamat dan bahagia, sambil menghitung hasil "rampokan" buku dari Gramedia.

Terima kasih saya ucapkan kepada pak Firman atas ajakannya, mbak Melvi atas donasi bukunya, dan teman-teman semua yang ikut serta pada kegiatan hari ini.


Sekian.
#salamliterasi
#motorliterasi
#kpk
#aclc

Kamis, 27 April 2017

Motor Literasi Distribusikan Buku Literasi Antikorupsi



Serang, komunitas Moli (Motor Literasi) mendistribusikan satu paket buku yang berjumlah 100 eksemplar  buku dari KPK untuk Taman Baca Masyarakat (TBM) Jawara, yang berlokasi di Jalan Pelabuhan Karangantu, Kelurahan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Rabu (26/04).

Firman Venayaksa, penggagas komunitas Moli dan tercatat sebagai Dosen Untirta  memberi  informasi bahwa akan ada 25 paket buku dari KPK yang akan diberikan melalui komunitas Moli kepada TBM yang aktif dan kekurangan bahan buku bacaan. “Ada sekitar 25 paket buku yang berjumlah 100 ekslemplar buku dari KPK untuk TBM yang aktif dan kekurangan bahan buku bacaan dan akan diberikan melalui gerakan Moli,” kata Firman. "Dari buku-buku inu, setiap TBM diharapkan membuat pojok baca KPK Membumi," harapnya.

Gerakan Moli dan KPK tersebut mendapat respons positif dari Badri Sya’ban, sebagai ketua TBM Jawara, karena sangat membantu TBM yang ia kelola untuk melengkapi koleksi buku bacaan. “Terimakasih KPK dan Moli, hal ini sangat membantu kami untuk melengkapi  bahan koleksi buku bacaan,”  ujar Badri.

TBM Jawara berdiri sejak 28 Maret 2016 yang masih dalam proses pembangunan karena tempatnya sempit dan berada di pojok belakang masjid namun memiliki 30 relawan yang terdaftar. Salah satu program TBM Jawara yaitu gelaran buku di Kaibon setiap minggunya agar menjadi jembatan bagi masyarakat dalam memberikan ruang baca dan mendekati  buku.

“Program yang terus berjalan salah satunya adalah gelaran buku di Kaibon tiap minggu sekali yang tetap intens agar menjadi wadah masyarakat dalam memberikan ruang baca,” tambah Badri.

Setelah selesai memberikan buku, komunitas Moli dan TBM Jawara bekerjasama mengadakan penggelaran buku, menggambar dan mewarnai di Pelabuhan Karangantu yang diramaikan oleh Mobil Perpustakaan Keliling Rumah Dunia, dari pukul 16.30 – 17.50 WIB. Selain itu para relawan Moli dan TBM Jawara mengadakan diskusi sederhana mengenai sejarah kesultanan Banten, terutama tentang pelabuhan Karangantu yang dulu menjadi salah satu pusat peradaban di Indonesia.

“Baru Kali ini ada gelaran buku di Pelabuhan Karangantu, hal ini bernilai positif bagi anak – anak zaman sekarang untuk lebih mencintai buku, karena kebanakan anak-anak suka membaca melalui internet yang terbuka dan bebas sedangkan buku masih tertutup dan tersusun rapih,” kata Faat salah seorang pembaca asal Kaibon. (Taufik)

Senin, 17 April 2017

PERKEMBANGAN GERAKAN LTERASI DI BANTEN *)


Sekitar 10 tahun belakangan ini, di Indonesia, istilah literasi mulai mewabah; Mulai dari literasi finansial, literasi lalulintas bahkan literasi kopi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Gerakan Literasi Nasional, mulai memunculkan enam literasi dasar yaitu literasi bahasa, literasi berhitung/ numeric, literasi sains, literasi teknologi informasi dan media, literasi keuangan serta literasi kebudayaan dan kewarganegaraan. Pertanyaannya, apakah literasi itu?

Secara etimologis, literasi diambil dari bahasa latin “literatus” yang berarti orang yang belajar. Menurut UNESCO , pemahaman seseorang mengenai makna literasi sangat dipengarungi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan pengalaman. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa entitas literasi tidak bisa berdiri sendiri. Ia hadir atas pengaruh dari pelbagai institusi sosial yang melingkupinya.

Jika kita menggali dari sisi istilah, maka kita akan bertemu beberapa kata yang berdekatan yaitu literacy (literasi), literary, literature/ litere (literatur) bahkan letter (huruf). Terlepas dari istilah-istilah yang muncul tersebut dan pasti akan berkembang sesuai dengan definisi yang dianut, potensi benang merah dari semua itu adalah menukik pada aktivitas membaca dan menulis. Dengan demikian, konsep literasi bermula pada dua keterampilan berbahasa tersebut, sehingga apapun pengembangan definisi literasi, maka ia tidak bisa melepaskan diri dari aktivitas membaca dan menulis.

Apa lagi jika kita merunut pada sejarah dijadikannya tanggal 8 September sebagai “International Literacy Day” yang didasari dari konferensi Tingkat menteri Negara-negara anggota PBB pada tanggal 17 november di Teheran, Iran. Waktu itu hampir 2/3 masyarakat dunia buta huruf sehingga momentum “International Literacy Day” menjadi vocal point di dalam mengingatkan dunia mengenai persoalan ini. Jadi jika ada yang “menggugat” terjemahan dari “International Literacy Day” menjadi “Hari Aksara Internasional” dari sisi historis inilah kita dapat memahaminya, walau dari sisi fungsional, istilah literasi dikecilkan maknanya menjadi hanya sekadar “keaksaraan”. Setelah 50 tahun sejak ditetapkannya di Taheran, ada baiknya Indonesia mengubah kembali istilah ini kembali ke muasalnya menjadi “Hari Literasi Internasional” karena isu buta aksara sudah dianggap hampir selesai.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa literasi menjadi tren baik di kalangan pemerintah, institusi formal hingga komunitas? Bagi Indonesia yang hingga kini masih dilabeli sebagai Negara berkembang, urusan literasi (dengan definisi yang lebih general) belumlah usai. Kita masih dibayang-bayangi oleh kemampuan literasi yang rendah. Menurut data Unesco, pada tahun 2012, minat membaca masyarakat Indonesia hanyalah 0,001. Itu artinya dari 1000 penduduk, hanya 1 orang yang mau membaca dengan serius. Pada pemeringkatan terbaru, menurut data World’s Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya satu peringkat lebih baik dari Botswana, sebuah Negara miskin di kawasan selatan Afrika. Aspek yang diuji antara lain perpustakaan, Koran, input sistem pendidikan, output sistem pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Sementara untuk urusan akses media internet, Indonesia justru masuk dalam peringkat ke-6 besar sebagai pengguna internet terbesar setelah Cina, Amerika serikat, India, Brazil dan Jepang.  Problematika yang dilematis seperti inilah yang sekarang ini melanda Indonesia. Jika lebih dari 83,7 juta masyarakat Indonesia mengakses internet pada tahun 2014, dan menurut perkiraan eMarketer pada tahun 2017 ini akan meningkat mencapai 112 juta orang dan diprediksi mengalahkan Jepang, pertanyaannya digunakan untuk apakah masyarakat Indonesia ketika mengakses internet? Jawabannya media sosial. Masyarakat Indonesia menempati rangking ke-2 di dunia setelah Amerika serikat.

Dalam konsep budaya membaca, setidaknya ada tiga pengelompokkan yaitu iliterat, aliterat dan literat. Iliterat adalah masyarakat yang sama sekali tidak mengenal dunia baca-tulis. Aliterat adalah masyarakat yang sudah terbebas dari buta aksara. Mereka bisa membaca dan menulis tetapi tidak menjadi bagian dari kebudayaannya. Sementara kelompok yang ketiga adalah masyarakat literat yaitu masyarakat yang sudah menjadikan membaca dan menulis terfungsikan dan menjadikannya sebagai sebuah kebudayaan. Jika melihat pengelompokkan tersebut, masyarakat Indonesia, kendati masuk dalam peringkat ke-2 di dunia yang menggunakan facebook, tetap menjadi bagian masyarakat yang aliterat karena secara konsep dan karakteristiknya, pengguna media sosial hanya memakai tulisan sebagai alat komunikasi lisan. Artinya kendati memakai sarana “letters” tetapi penggunaannya lebih cenderung untuk “lisan”. Hanya sedikit saja pengguna media internet di Indonesia yang menjadikannya sebagai sarana literat seperti mengunduh e-book atau mendapatkan sarana informatif yang transenden. Umumnya, para “pembaca” facebook adalah pembaca permukaan. Ia hanya membaca untuk sekadar tahu, belum masuk terlalu dalam pada ranah pengetahuan, sehingga mindset aliterat tetap dipergunakan kendati ia memakai “tools” yang seakan literat.

“Melawan” Unesco
Kesadaran literasi di Banten, sebagai nukilan awal untuk memperlihatkan kepedulian komunitas terhadap problematika literasi di Indonesia bisa dipelajari dari Komunitas Rumah Dunia. Sebagai komunitas literasi yang berdiri pada tahun 2002, Rumah Dunia cukup konsisten dalam menggerakkan publik terkait pentingnya budaya membaca. Di dalam penelitian Stian Haklev, seorang peneliti dari Kanada  Rumah Dunia adalah salah satu komunitas Taman Bacaan yang berdiri atas pengaruh dari runtuhnya Rezim Orde Baru dan munculnya Orde reformasi. Kemunculan Taman Bacaan Independen ini juga beranjak dari kesadaran literer yang tumbuh karena sulitnya masyarakat mengakses bahan bacaan. Rumah Dunia yang digagas oleh Gol A Gong, Toto St Radik dan Rys Revolta dimuarakan sebagai komunitas learning center terutama sastra dan jurnalistik. Sebagai komunitas yang terbuka, Rumah Dunia menjadikan pembelajarnya (juga) sebagai relawan. Dari sinilah cikal bakal gerakan literasi, terutama di Banten, berkembang. Bahkan Rumah Dunia menjadi salah satu pendorong terbentuknya Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten yang ketika itu ironisnya justru dipertanyakan kemanfaatannya untuk masyarakat Banten oleh anggota DPRD. Lima belas tahun kemudian, sekitar 400 Taman Bacaan masyarakat tumbuh di Banten. Secara langsung atau tidak, Rumah Dunia menjadi bagian penting dari menjamurnya TBM di Banten. Pada titik ini, parameter kepedulian dari komunitas maupun masyarakat mulai berangsur terbukti. Fenomena ini juga menjadi semacam “perlawanan” komunitas terhadap penghakiman yang dilansir oleh Unesco mengenai minat membaca masyarakat Indonesia yang masih sangat rawan.

Konsep penting yang muncul di Komunitas Literasi/ Taman Bacaan Masyarakat di Banten adalah dengan menjadikan TBM tersebut sebagai learning center. TBM tidak hanya berupaya untuk mendekatkan bahan bacaan kepada penggunanya (masyarakat), tetapi juga melakukan empowering berupa softskill maupun hardskill yang secara jelas terlihat. Misalnya, di TBM Kedai Proses, konsep TBM diarahkan pada pendekatan teater dan kultural. Mereka menggunakan pendekatan ini untuk menjadikan TBM sebagai magnet bagi anak-anak muda dan mahasiswa untuk datang dan menjadi bagian dari TBM tersebut. Sebagai TBM yang diinisiasi oleh Kampus STKIP Setiabudhi Rangkasbitung, Kedai proses juga dikenal sebagai TBM berbasis kampus. Hampir semua relawannya adalah civitas akademika. Selain TBM yang independen, ada juga TBM yang menyatu dengan Pusat Kegiatan belajar mengajar (PKBM) sehingga bagi pengguna TBM, di sisi lain mereka juga bisa memanfaatkan PKBM sebagai sekolah nonformal sehingga jenjang keilmuan tetap bisa diakses.

Motor Literasi
Pada tahun 1986, Baharudin, seorang guru di daerah Menes Pandeglang, dengan memakai motor yang berisi buku-buku bacaan, ia berkeliling untuk mencari pembaca. Pada masa yang sama, Di Rangkasbitung, ada penyewaan buku bacaan Rengganis yang juga cukup terkenal. Pada tahun tersebut, bahan bacaan masih digandrungi oleh pembaca. Selain karena hiburan masih terbatas (hanya ada TVRI) bahan bacaan menjadi alternatif hiburan dan pendidikan kendati mereka harus menyewa bahan bacaan. Namun, seperti pengakuan Baharudin, kini buku bacaan tidak lagi terlalu digandrungi, padahal ia sudah tidak lagi meminta pembacanya untuk menyewa. Hal ini berbanding terbalik dengan yang dilakukan oleh TBM Sumlor yang dimotori oleh Ugas. Ketika mereka mendatangi desa-desa dengan Bajaj literasi, pembaca di setiap desa cukup antusias. Untuk mendatangkan pembaca, Ugas yang dikenal sebagai pendiri Kelompok Pengamen Jalanan (KPJ) Rangkasbitung memulainya dengan pendekatan musik. Strategi ini menjadikan TBM Sumlor tetap diminati dan didatangi oleh pembacanya.

Seperti ketika hendak berperang, strategi harus dimiliki oleh penggiat literasi. Tak-tik dan gaya para penggiat tentu berbeda di masing-masing tempat. Secara umum, TBM di Banten memiliki dua konsep layanan. Pertama layanan klasikal yang menunggu pembaca mendatangi TBM, kedua layanan proaktif, agar bahan bacan bisa mudah diakses oleh pembacanya, beberapa komunitas literasi/ TBM berusaha mendatangi pembacanya. Pada tahun 2008, Rumah Dunia sudah memulai layanan perpustakaan keliling ini. Sebuah Bajaj dengan kekuatan 80cc dipakai untuk mengangkut buku-buku. Bajaj ini diperoleh dari bantuan Nurani Dunia dan XL Care dan mendatangi kampung-kampung di sekitar Kota dan Kabupaten Serang. Selain membuka perpustakaan keliling, untuk merangsang pembaca, terutama anak-anak, relawan Rumah Dunia mengadakan lomba-lomba seperti baca puisi dan menggambar. Pada tahun 2009, karena Rumah Dunia mendapatkan motor perpustakaan keliling dari Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) maka Bajaj dialihkan penggunaannya ke TBM Kedai Proses dan tak lama kemudian beralih ke TBM Sumlor KPJ Rangkasbitung. Pada tahun 2014, Rumah Dunia diamanahi oleh Majalah Ummi untuk bertanggungjawab mengelola mobil perpustakaan keliling. Di sisi lain, TBM Kedai Proses dibantu oleh Kemdikbud. Mereka diamanahi mobil GIM untuk melayani para pembaca di daerah Banten. Dengan berbekal beberapa kendaraan tersebut, strategi jemput bola dengan mendatangi langsung ke masyarakat adalah tipe lain dari kounitas literasi untuk mendekatkan buku kepada para pembacanya.

Pada tahap ini, kemunculan TBM dengan melakukan upaya mendekatkan diri dengan pembacanya sudah mulai marak dilakukan. Para relawan literasi memiliki kepercayaan bahwa TBM tidak hanya semata-mata statis. Mereka berusaha pula untuk bergerak dengan harapan semakin banyak masyarakat yang bisa mengakses buku. Pertanyaannya, bagaimana jika geng motor ikut bergerak untuk terlibat dalam gerakan literasi ini?

Bukan rahasia umum bahwa geng motor sering menjadi biang kekacauan. Dengan gaya subkultur mereka, geng motor sangat ditakuti dan menjadi “musuh” masyarakat. Menurut data Indonesia Police Wach mengungkapkan bahwa setiap tahun lebih dari 60 orang tewas karena ulah geng motor. Kondisi ini makin memperkeruh citra geng motor di Indonesia. Di dalam teori cultural studies, budaya anak muda dan geng motor tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Di dalam perkembangannya, Cultural Studies menaruh perhatian yang cukup besar pada subkultur. Para teoresi di Brimingham Centre seperti Hebdige, Clarke, Cohen, McRobbie, Willis dan Grossberg pernah membahas mengenai subkultur terutama yang dikaitkan dengan musik khas, gaya pakaian, aktivitas hiburan, tari dan bahasa yang diasosiasikan dengan anak muda. Selain sebagai peneliti, perhatian mereka terhadap kebudayaan anak muda terjadi karena mereka bagian dari generasi babyboomer.

Dari segi istilah, kata “sub-kultur” merupakan pembeda dari budaya dominan. Subkultur berada di tepian dari induk kulturnya yang berposisi di pusat. Istilah –sub memiliki jarak, sehingga subkultur sering dirujuk pada bentuk perbedaan dari kebudayaan pada umumnya. Bahkan pada predikat lain, anggota subkultur dianggap sebagai orang-orang yang menyimpang. Hal tersebut terlihat dari beberapa penelitian mengenai komunitas Skinhead, Teddy Boys, Punk, Holigan, geng motor, yang dianggap sebagai komunitas menyimpang oleh budaya dominan.

Dengan demikian, anggota geng motor kerap kali dianggap sebagai komunitas yang menyimpang. Hal ini dikarenakan entitas komunal mereka yang tidak bisa dipahami oleh institusi dominan. Di dalam perkembangannya, dengan pelbagai peristiwa geng motor yang cukup negatif beberapa perkumpulan motor melakukan redefinisi dan membuat status social baru dengan mengganti istilah “geng” menjadi klub, komunitas atau kelompok. Gaya eufimisme ini tentu bisa diterima walaupun dalam beberapa aspek, mereka tetap terbedakan dengan institusi induknya.

Namun, beberapa waktu ini, terjadi fenomena yang cukup menarik untuk ditelisik. Di Banten, beberapa geng (baca: komunitas, kelompok, klub) membentuk sebuah kelompok besar yang dinamakan “Motor Literasi” (Moli). Moli yang diinisiasi oleh penggiat literasi (Forum TBM), mahasiswa dan komunitas motor di Banten cukup menjadi oase di tengah percaturan politik yang kian hari kian menjemukkan. Kini anggota Motor Literasi sudah berjumlah sekitar lima puluh orang dan terus bertambah. Seperti yang dilansir oleh detik.com (16/04/2017) bahwa aktivitas Moli digagas sekitar 2 bulan lalu. Motto yang mereka pakai adalah “Read More, Ride More”. Tujuannya selain menggelar lapak buku di car free day di kota-kota se-Banten, perkumpulan ini juga melakukan pengembangan taman bacaan di desa-desa. Selain itu, hampir setiap hari mereka mendatangi (door to door) rumah-rumah yang hendak menyumbang buku.

Seperti diketahui para pengelola TBM umumnya masih kekurangan buku. Moli menjadi solusi dengan menjadi “bridging” antara masyarakat yang hendak mendonasikan buku dengan TBM yang membutuhkannya.  Kelebihan dari komunitas motor adalah jumlah pengikutnya yang cukup banyak. Di Moli, ada empat komunitas motor yang sekarang berkumpul yaitu Indonesian Rider, Supermoto Lebak, Kombo Banten dan komunitas Vespa. Dengan menyebarnya anggota-anggota mereka di berbagai kabupaten di Banten sangat memudahkan dalam pengambilan buku-buku langsung ke rumah. Hanya dalam satu bulan, sudah lebih dari 2000 buku yang didapat. Sebelum mereka memberikan donasi buku kepada TBM yang membutuhkan, mereka melakukan Shorting-Packing-Distributing (SPD). Selain itu, mereka juga bekerjasama dengan KPK, terutama ikut mengkampanyekan dan memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang antikorupsi.

Motor Literasi yang kini mulai terlibat di dalam gerakan literasi di Banten, turut menambah khazanah strategi literasi yang dilakukan oleh pelbagai pihak. Ikhtiar yang cukup menarik ini dengan melakukan komodifikasi terhadap geng motor, secara tidak langsung mulai mengikis citraan negatif bagi pencinta motor di Banten khususnya. Di sisi lain, dengan kehadiran Motor Literasi, setidaknya ada sejarah baru bagi pengembangan budaya baca di Banten.

*) disampaikan pada seminar literasi yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten, 17 April 2017.