Senin, 24 Januari 2011

ANALISIS FILM DEVIL’S ADVOCATE

ANALISIS FILM DEVIL’S ADVOCATE
Oleh Firman Venayaksa

Kejahatan dan kebenaran adalah dua posisi yang selalu dipertentangkan, sekaligus dipertemukan dalam kehidupan di dunia yang fana. Kehadiraan dua posisi yang bertolak belakang ini membuat kehidupan menjadi berwarna. Setiap manusia tak bisa menghindar;  harus merasakan, harus memilih. Kejahatan selalu disimbolkan melalui kegelapan, setan, api, sementara kebenaran biasanya disimbolkan melalui kesucian, malaikat, agama, yang pada akhirnya bersumber pada satu tujuan yaitu mencari jalan menuju Tuhan.
Film Devil’s Advocate yang dibintangi oleh Keanu Reeves (Kevin  Lomax) dan Al Pacino (John Milton) adalah gambaran pertentangan antara kejahatan dan kebenaran. Berbeda dengan film-film bertemakan setan yang cenderung difokuskan pada wajah angker dan menakutkan seperti : zombie, werewolf, dracula, vampire, atau sherwolf, dalam film Devil’s Advocate lebih menitikberatkan pada nilai mental atau perilaku setan.
Seorang pengacara, Kevin Lomax, tidak pernah terkalahkan dalam setiap kasus yang ditanganinya. Ia selalu memenangkan setiap perkara di Gainsville-Alachua Country. Kasus yang ditangani dalam sekuen pertama mengenai kasus pelecehan seksual seorang guru terhadap muridnya. Pada kasus itu sebenarnya Lomax sudah dalam posisi yang kalah karena ia melihat sendiri bagaimana tingkah laku kliennya ketika mendengarkan pengakuan muridnya di pengadilan. Lomax merasa bahwa kliennya memang melakukan pelecehan seksual tersebut. Namun karena ia lebih mementingkan popularitas dan kepentingan reputasinya maka ia abaikan setiap fakta yang ada. Lalu dengan mengesampingkan makna kebenaran, ia memenangkan perkara tersebut dengan kepiawaiannya dalam merebut simpati para juri.
Dengan reputasinya yang cukup baik, sebuah firma terkenal di New York bernama Milton, Chadwick, Waters berniat menyewa Lomax untuk bergabung di firma tersebut dan Lomax tertarik. Ia beserta istrinya (mary Ann) langsung terbang ke New York setelah sebelumnya berpamitan dengan ibunya. Sebetulnya ibu Lomax tidak merestui. Ia beranggapan bahwa kota besar seperti New York adalah representasi dari negeri babilonia yang terdapat dalam kitab injil, negri yang dipenuhi dengan bermacam gemerlapnya keduniawian sehingga mengakibatkan terlena dalam kenikmatan yang nisbi.
Ibu Lomax adalah seorang kristiani yang taat. Ia begitu menyayangi anaknya dan sangat khawatir jika hidup di New York anaknya tersesat jauh dari jalan menuju Tuhan. Tokoh ibu Lomax adalah representasi dari nilai-nilai kebenaran, baik, mempunyai “sifat malaikat” yang suatu saat akan menjadi  juru kunci terhadap cerita ini dan memberikan pencerahan untuk Lomax.
Di New York, Lomax mendapatkan kenikmatan yang ia cari. Kasus demi kasus berhasil ia tangani dengan baik. Awalnya, Mary Ann mengalami hal serupa. Ia begitu menikmati fasilitas apartemen yang diberikan firma tempat suaminya bekerja. Selain ia bisa mendekorasi rumah sesukanya, ia juga bisa berbelanja apa saja. Namun kenikmatan ini hanyalah sesaat setelah Lomax bertemu dengan direktur firma, John Milton.  Ia mengubah segalanya. Lomax begitu berkonsentrasi dengan pekerjaannya yang menumpuk menangani bermacam kasus, sementara Mary Ann ditinggal sendiri, mengalami hari-hari yang sepi dan penuh depresi. Ada banyak sekali keanehan yang dialami oleh Mary Ann seperti melihat wanita yang berubah menjadi wajah yang menakutkan, melihat seorang anak kecil yang berada di apartemennya dan mengambil indung telurnya sehingga ia tak bisa melahirkan seorang anak dari rahimnya. Selain itu ia juga sering mendengar suara-suara yang aneh. Akibat hal-hal ganjil yang ia alami, dengan terpaksa Lomax membawanya ke rumah sakit jiwa yang pada akhirnya Mary Ann menemui ajalnya di tempat tersebut. Kejadian tragis ini adalah sebentuk teror yang dilakukan oleh Milton. Ia berusaha untuk memisahkan antara Lomax dan Mary Ann agar siasat yang ia bangun berjalan dengan mulus.
Kasus pertama yang Lomax tangani adalah tentang kasus pembunuhan domba. Dalam kasus ini, Philippe Moyez, kliennya telah melanggar peraturan kesehatan dan menurutnya ia tak akan bisa memenangkan kasus tersebut. Ketika berkunjung ke tempat Moyez di sebuah ruang bawah tanah, ia melihat sebuah keanehan. Moyez berkata bahwa ia melakukan pembunuhan terhadap binatang dengan hal yang tidak lazim merupakan infestasi dalam bentuk darah dan menganggapnya sebagai mata uang spiritual. Selanjutnya Moyez mengeluarkan sebuah lidah binatang dan beberapa paku, lalu menanyakan nama jaksa yang menuntutnya. Pada sidang tersebut, jaksa penuntut memang sulit sekali berbicara. Moyez telah melakukan sebuah “black magic” yang biasanya meminta bantuan dari setan. Selain itu, Moyez juga memiliki uang 15 juta dollar yang sangat tidak rasional jika dibandingkan dengan pekerjaannya. Keanehan ini tidak terlalu disadari oleh Lomax. Ia hanya berusaha menjalankan tugasnya.
John Milton bukanlah seorang manusia biasa. Dalam film ini ia adalah simbol dari kejahatan yang abadi, setan, penuh dengan ambisi dan kekuasaan serta memiliki kekuatan untuk mempengaruhi.  Ia bisa mengetahui apa yang ada dalam benak manusia. Dengan kekuatannya, ia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya termasuk bercinta dengan perempuan dan membunuh. Pertemuannya dengan ibu Lomax telah membongkar sebuah rahasia yang telah bertahun-tahun disimpannya. Rupanya John Milton adalah bapak dari Lomax. Keinginan Milton untuk bertemu dan  mempekerjakan Lomax tidak sekedar memberikan warisan untuk melanjutkan firma yang dibangunnya, namun lebih jauh dari itu. Milton berkeyakinan jika darah keturunannya melakukan hubungan seksual, maka cucunya akan melanjutkan cita-citanya untuk menguasai setiap jiwa manusia, menjadi pemimpin dunia. “Bibitmu adalah kunci untuk mewujudkan dunia baru” itu yang dikatakan Milton untuk meyakinkan Lomax. Milton mengakui bahwa ia memang setan yang berambisi menjadi pemimpin dunia pada abad ke-20 ini.
Namun Lomax mempunyai keputusan sendiri. Ia bunuh diri dengan pistolnya. Akibat kejadian itu, John Milton dan anak perempuannya terbakar dan menjadi abu.  Di sini sang sutradara mencoba untuk membuat sebuah kesan lain. Setelah kejadian tersebut Lomax kembali ke tempatnya semula di daerah Gainsville-Alachua Country dan sedang menyelesaikan perkara pada sekuen pertama tentang pelecehan seksual. Namun kali ini ia mengalah dalam kasus tersebut. Yang lebih mencengangkan, ternyata Milton pun berada di sana yang berubah menjadi wartawan. Pada adegan penutup ini sang sutradara mencoba untuk memberikan sebuah kesan kepada penonton bahwa setan akan selalu menggoda kehidupan kita.
Dari segi naratif film Devil’s Advocate di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa film ini tidak sekedar menyampaikan sebuah gagasan tentang keberadaan setan yang bisa merasuk dalam setiap lini kehidupan manusia, namun setan memiliki fokus yang jelas untuk mencari pengikut-pengikutnya agar bisa tetap bersetia dengannya. Kekayaan, kekuasaan dan bermacam cita-cita besar yang diinginkan setiap manusia terus dibayang-bayangi oleh nilai kesombongan dan sebentuk kesombongan inilah yang sangat disukai oleh setan. “Kesombongan adalah dosa kesukaanku”. Itulah yang kerap kali dikatakan Milton dalam salah satu dialognya dengan Lomax.  Setan dalam film ini tidak diperlihatkan dengan wajah yang menakutkan, tetapi direpresentasikan melalui sifat-sifat yang sangat manusiawi. Kendati demikian kita bisa melihatnya dari segala bentuk ekspresi yang dilakukan Milton. Penggambaran karakternya yang sangat berkuasa, selalu tertawa, memiliki kemampuan menyelesaikan persoalan-persoalan dengan cepat tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran adalah sifat yang sulit untuk disangkal bahwa itu bukanlah sifat setan.
Yang menarik dalam film ini adalah mengenai pengambilan ruang lingkup dunia pengacara. Setidaknya ada pertanyaan yang perlu kita pecahkan, mengapa mengambil ruang lingkup dunia pengacara? Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap pengacara akan membela setiap kliennya. Ia tidak memikirkan apakah klien tersebut bersalah atau tidak. Hal terpenting adalah bagaimana caranya agar pengacara bisa membela mati-matian agar bisa memenangkan perkara tersebut. Tentu saja pembelaan seperti ini menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi setan.
Dari segi sinematografis, kita bisa melihat sebuah permainan warna yang bisa mewakili cerita ini. Gambar dalam film ini terkesan redup, seakan menggambarkan sebuah kekuasaan dunia kegelapan. Di kantor Milton kita akan selalu melihat sebuah perapian. Perapian ini disimbolkan sebagai sebuah kekuasaan kegelapan di mana Milton berkuasa. Berbeda lagi ketika berlatar sebuah gereja. Kita akan melihat gambar yang terang benderang dengan pilihan warna-warna cerah. Untuk pengambilan percepatan waktu, film ini memakai efek mempercepat gambar sehingga terlihat begitu cepat pergantian antara gelap dan terang yang menandakan bergulirnya waktu. Gaya seperti ini dipakai berulang kali dalam film ini. Dalam pengambilan gambar, film ini lebih banyak memakai medium shot jika berada di tempat persidangan dan memakai close up ketika Mary Ann menghadapi histeria atau Milton yang sedang mempengaruhi Lomax.
Fim Devils Advocate berlatar kantor, tempat persidangan dan apartemen. Di antara ketiga tempat tersebut, kantor dan persidangan lebih menonjol, sehingga kita akan bisa merasakan dunia formalitas yang sangat kaku seperti pakaian dan gelagat para tokoh, sedangkan apartemen lebih memfokuskan pada Mary Ann yang merasa tidak nyaman berada di tempat tersebut.
Objek lain yang tak kalah pentingnya yaitu latar musik. Sayangnya back ground musik tidak terlalu dianggap penting dalam film ini dan hal inilah yang membuat film Devils Advocate tidak terasa keteganganya bahkan terkesan datar, padahal ada banyak momen di mana latar musik akan menambah mendukung suasana. Kalaupun ada, musik dibuat tidak terlalu mewah, terkesan begitu minimalis.
Efek gambar yang cukup menarik dalam film ini diperlihatkan ketika Lomax bunuh diri dengan pistolnya. Kejadian itu berdampak pada Milton dan putrinya yang tiba-tiba terbakar oleh api yang datang secara tiba-tiba.
Dari bermacam analisis di atas kita bisa menyimpulkan bahwa film Devils Advocate memiliki keunikan tersendiri yaitu mencoba untuk memberikan gambaran lain dalam penyampaian tentang setan, bahwa ia tak lahir dalam bentuk fisik semata tetapi telah menjelma menjadi sebuah perbuatan.



Tanah Air, 2005