Senin, 24 Januari 2011

BAHASA KECEMASAN DALAM TEATER ALIA LUKA SERAMBI MEKAH KARYA RATNA SARUMPAET


BAHASA KECEMASAN DALAM TEATER ALIA LUKA SERAMBI MEKAH KARYA RATNA SARUMPAET
Oleh Firman Venayaksa

Seniman adalah pencipta. Kadang penciptaan itu bisa lahir dalam dunia khayali, mencoba membuat sebuah tempat di mana tak ada yang bisa menyamainya dalam dunia realitas, mencoba menciptakan tokoh imajinatif yang bisa jadi sangat sempurna, atau justru sebaliknya. Seniman mempuyai nilai rasa yang tak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Kemampuannya yang fantastis memungkinkan membuat apapun yang bisa jadi tak pernah terpikirkan oleh manusia kebanyakan. Dalam hal mencipta, banyak kemungkinan yang bisa diperbuatnya. Kadang ciptaannya lahir pula dari dunia realitas yang ia kembangkan, ia reka-reka sehingga menjadi sebuah tampilan yang berbeda dari percontohan/ objek sebelumnya. Polesan-polesan yang dilakukan oleh sang seniman inilah yang pada akhirnya disajikan kepada khalayak, mentransformasikan sebentuk pemahaman yang ada dalam benak sang kreator.

Membaca Alia Luka Serambi Mekah karya Ratna Sarumpaet membuat kita akan merenung cukup lama. Banyak paradigma pemikiran kita tentang Aceh yang senantiasa begitu rapuh untuk dijungkirbalikkan. Membaca karya yang menampilkan unsur transenden ini kita seolah tidak hanya diajak berjalan-jalan menyusuri sungai darah yang begitu memilukan hati, namun justru kita seperti benar-benar berada di sana, mempersilahkan kepada kita untuk mengambil peran, menjadi tokoh yang manakah kita?

Kejadian di Aceh bukan hanya sebuah fiksi semata, tapi realitas yang memang terjadi. Hanya saja pernahkah kita berpikir akan menjadi siapakah jika kita berada di tempat tersebut? Menjadi Alia --yang sempat menjadi korban penculikan dan pemerkosaan-- tiba-tiba dengan perkasa mengepalkan tangan ke angkasa? Menjadi Panglima Rayeuk yang oportunis? Menjadi Farhan yang mencoba memperjuangkan rakyat Aceh tanpa merasakan kepiluan dan nestapa? Menjadi Teuku Saiful mencoba mengangkat senjata melawan tentara dan terpaksa harus menyandang titel sang pembunuh demi perjuangannya? Menjadi serdadu yang dengan mengatasnamakan stabilitas nasional tetapi tidak bisa menstabilkan garnisunnya sendiri? Atau menjadi rakyat yang selalu tertindas oleh dua kekuatan yang saling bertikai?

Pertanyaan-pertanyaan di atas akan terus bergulir bahkan menggumpal sebagai sebuah bola salju yang akan meneror kita. Teror demi teror yang dibungkus dalam bentuk-bentuk pernyataan dan pertanyaan saling berhimpitan dalam kata-kata yang diusung oleh Ratna Sarumpaet, begitu ganas dan panas. Sangat sulit jika kita mencari bahasa yang syahdu dan menggembirakan, sekedar menghela nafas barang sesaat. Bisa jadi disinilah salah satu ciri khas dari karya Ratna Sarumpaet. Dalam Alia Luka Serambi Mekah pun bahasa kecemasan yang ganas dan panas kian menyeluruh dalam setiap adegan.

SORAYA
Dia akan disiksa, Cut Nyak…
Dia akan diperkosa

ZAHRA
Mungkin dibunuh, seperti lainnnya…

CUT NYAK
Keduanya akan ditangkap, disiksa atau dibunuh
seperti selalu mereka lakukan (hlm. 9)

Jika kita menyimak dialog di atas, kita bisa merasakan betapa suasana riuh penuh kecemasan terkuak dan lahir dalam nafas pemikiran di atas.

KOMANDAN
Rumah yang tenang, nyaman…
Setiap rumah dihantui rasa takut.
Gerakan Pengacau Liar pimpinan Wali Negeri,
Berkeliaran, menyelusup ke mana-mana.
Sewaktu-waktu dapat mengobrak-abrik
Ketenangan masyarakat.
Dan itu sangat merepotkan petugas keamanan.
Rumah ini…(hlm. 12)

Monolog yang disampaikan sang Komandan ketika bertamu ke tempat Cut Nyak bisa kita rasakan juga sebagai bahasa kecemasan. Dalam bertindak, seharusnya yang mempunyai pangkat komandan bisanya berbahasa persuasif. Kalimat di atas, jika kita memaknai dengan seksama, bahasa persuasif tak nampak sama sekali, bahkan terkesan mengancam, menuduh walaupun seperti tak ada yang dituduh.

PRAJURIT 4
Sial! Sial! Kita celaka…
Kita betul-betul celaka…

PRAJURIT 4
Kita akan dibunuh.
Kita akan disiksa, dianiaya,
Persis seperti selama ini
Kita menyiksa orang-orang.
Kita akan dipertontonkan kepada rakyat
Yang selama ini kita sakiti
Mereka akan menatap kita dengan sisnis
Dengan penuh kebencian…
Mereka akan mengejek kita,
Meludahi kita,
Melempari kita dengan batu.
Tidak. Aku tidak sanggup…(hlm. 50)

Bahasa kecemasan rupanya tidak saja melanda rakyat Aceh yang tertindas. Prajurit yang kita kenal sangat berani pun memiliki kemampuan takut terhadap takdir yang akan menimpaya. Monolog di atas dengan jelas bisa kita maknai sebagai sebuah ungkapan yang benar-benar mengekspresikan kegalauan sebagai seorang manusia biasa, teror yang melanda hati sang prajurit.

PANGLIMA RAYEUK
Kenapa?
Mengerikan, ya!
Kebohongan…kepalsuan…(hlm. 67)

ALIA
Itu gerakan rakyat.
Mereka melindungi rakyat dari
Ancaman-ancaman kalian,
Dari pengejaran-pengejaran kalian.
Mereka bukan Pengacau Liar. (hlm. 69)

Penggalan dialog di atas antara Panglima Rayeuk dan Alia yang secara aliran darah masih memiliki ikatan keluarga ternyata berbahasa kecemasan pula. Semua pemikiran-pemikiran yang dilontarkan oleh hampir semua tokoh menyiratkan mengenai kegalauan. Ini sekedar pembuktian bahwa drama yang digarap oleh Ratna Sarumpaet ingin mencoba membeberkan kepada kita mengenai situasi yang terjadi di Aceh memang cukup menegangkan dan membuat bulu kuduk berdiri. Selanjutnya sebagai sebuah perbandingan terhadap situasi di atas, kisah cinta yang seyogyanya melankolis dan romantis—yang biasa terjadi dalam naskah-naskah romantisisme—tidak nampak dalam drama ini. Sebelum lahirnya kejadian tragis yang menimpa Alia, Alia dan Farhan adalah pasangan kekasih. Namun ketika mereka bertemu setelah kejadian itu, rasa rindu yang biasanya menggejala pada pasangan yang dilanda asmara tak nampak sama sekali, bahkan diluar prediksi, mereka tidak mencapai sebuah kesepakatan, yanga ada adalah berbagai proses pernyataan yang sulit untuk diyakini bahwa mereka dulunya adalah sepasang kekasih.



 ALIA
………………………….
Aku ingat bagaimana kau tumbuh dan dibesarkan
Di tengah rumah  yang nyaman,
Yang tidak mengenal kekurangan
Lalu sekian tahun hidup di negeri orang dengan kemewahan

FARHAN
Dan aku tidak berubah

ALIA
Ya, itu intinya Farhan.
Kamu tidak berubah.
Kamu tidak membuka mata kamu,
Hingga kamu tidak melihat kalau
Semuanya sudah berubah.

ALIA
Kamu persis seperti mereka, Farhan.
Hidup disana dengan nyaman,
Menatap penderitaan kami dari jauh
Dengan haru dan airmata,
Kalian lalu merancang gagasan-gagasan
Untuk melanjutkan kami. Lancang! (hlm. 116-117)

Agaknya sulit untuk mencari tokoh yang bijak dalam drama Alia Luka Serambi Mekah. Sepertinya semua orang gamang dalam mencari letak kebajikan, mencari diksi yang menentramkan. Tentu saja hal seperti ini adalah sebuah strategi dari seorang Ratna Sarumpaet untuk meneror kita sebagai apresiator yang sudah dilenakan dengan dunia yang indah tanpa memikirkan bahwa realitas yang terjadi, yang sebenarnya berada tak jauh dari mata kita begitu butuh perhatian. Ratna Sarumpaet ingin menggugah kesadaran kita kendati hanya dalam media pementasan.

Tanah Air, 2004