Senin, 24 Januari 2011

BANTEN STAR DAN KEBUDAYAAN MASSA


BANTEN STAR DAN KEBUDAYAAN MASSA
Oleh Firman Venayaksa

Belum lama ini, di Universitas Indonesia --yang diikuti oleh beberapa universitas terkenal lainnya-- ada perubahan paradigma yang cukup menarik untuk disoroti, yaitu perubahan nama dari Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Konsekuensi dari perubahan ini mengakibatkan perluasan disiplin ilmu baik objek kajian maupun teori-teori pendekatan. Teks kajianpun tidak hanya merunut pada text book seperti buku-buku sastra. Tutup botol, lagu dangdut, bahkan iklan layanan masyarakat dengan disertai foto-foto plt. Gubernur Banten yang naudzubillah banyaknya pun bisa dijadikan sebagai objek penelitian jika mengambil sudut pandang Roland Barthes, bahwa contoh-contoh tadi adalah juga teks yang bisa dibongkar maknanya. Dengan demikian, objek budaya dalam hal ini bukan merujuk pada kebudayaan tradisional saja, tetapi juga popular culture.
popular culture yang sekarang ini berkembang dengan pesat, menumbuhkembangkan juga determinasi populer budaya massa yang masif dan sulit dikontrol. Semua orang berpikir seragam; mulai dari cita rasa makanan dengan cara instan, hingga  cita-cita menjadi artis terkenal dengan sms sebagai Tuhannya. Di beberapa stasiun televisi, kita juga bisa mengamati semangat budaya ini dalam acara pencarian bakat seperti Indonesian Idol, AFI dan KDI.  Kehadiran produk televisi ini tak lepas dari hegemoni massa. Secara sederhana, popular culture dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan kepada khalayak konsumen massa.
Dominic Strinati, seorang pengamat yang cukup berkompeten di bidang ini mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menyatakan dengan keras bahwa budaya massa menuntut orang untuk nyaris tidak mau berpikir dan merenung  serta menangguhkan segala harapan kritis. Akibatnya akan mengurangi sumber intelektual maupun moral karena direduksi hanya mendapatkan keuntungan material. Hal senada diutarakan juga oleh Mc Donald (1957: 60),
Selama rakyat diorganisir sebagai massa, mereka kehilangan identitas dan kualitas sebagai manusia, karena massa dalam kerangka waktu historis adalah kerumunan di dalam ruang: orang-orang dalam jumlah besar yang tidak mampu mengekspresikan dirinya sebagai umat manusia karena terkait satu sama lain bukan sebagai individu atau anggota masyarakat--sebenarnya mereka tidak terkait satu sama lain, kecuali untuk hubungan berjarak, abstrak, dan tidak manusiawi: sebuah pertandingan sepak bola atau pasar tradisional dalam kasus sebuah kerumunan, sebuah sistem produksi industrial, sebuah partai, atau Negara bagian dalam kasus massa. Manusia massa adalah sebuah atom soliter, seragam dan tidak bisa dibedakan dari ribuan maupun jutaan atom lain yang menyusun “kerumunan kesepian”.
Setelah membaca dua pendapat di atas, kita akan disudutkan pada sebuah ruang dimensi penuh ketakutan, apa lagi ketika diberikan predikat sebagai manusia yang tidak memiliki identitas. Benarkah?

Banten Star

            Seyogyanya kita harus menelusuri kembali mengenai dua pendapat di atas, MC Donald dan Strinati ketika merumuskan tentang dampak populer culture tentu saja berdasarkan wilayah pijakan dimana mereka bersosialisasi dan berdomisili, yaitu Amerika.  Sebuah negara adidaya yang memang sudah berhasil  menjadikan manusia sebagai mesin. Artinya pendapat mereka tidak serta merta disamaratakan dengan negara kita yang baru saja mencium aroma popular culture, apa lagi Banten , sebuah provinsi yang belum banyak menghadirkan wadah kreativitas.
            Banten Star yang digawangi oleh Gong Media Cakrawala  memang mengadaptasi Indonesia Idiol, AFI atau Kdi walaupun dengan variasi yang  berbeda. Jika menarik garis vertikal, jelas produk ini memang berasal dari  popular culture.  Peroalannya apakah kekhawatiran di atas akan di dapatkan juga pada produk Banten Star? Saya kira terlalu dini  k\jika kita berpikir sehebat itu. Jangankan untuk memproduksi pada skala industri seperti hakikat populer culture. Berpikir bagaiamana caranya menggaet sponsorship saja bukan main sulitnya. Seperti diungkapkan oleg Gola Gong, Direktur Gong Media Cakrawala, bahwa ini dari Banten Star adalah membuat sebuah wadah agar remaja Banten menjadi produktif dan kreatif tanpa menenggelamkan identitas mereka sebagai individu yang merdeka. Di dalam konteks ini produk popular culture  hanya dijadikan sebagai kendaraan untuk memuluskan pengembangan diri remaja Banten, karena cara seperti itu adalah cara yang paling efektif untuk menggiring mereka ke ranah kreativitas.
            Dunia kita adalah dunia ajaib yang serba paradoks. Banyak penyair yang memutuskan untuk hidup dalam pengasingan tetapi ia juga merindukan puisinya di muat di dalam ke-hingarbingar-an media massa. Orang-orang legeslatif mendiskusikan pengentasan kemiskinan dengan pakaian berdasi di ruangan ber-AC. Para mahasiswa berdemonstrasi untuk memboikot produk-produk Amerika sambil memakai dan Levi’s blue jeans.  Intinya, mau tidak mau, kita sudah menjadi bagian dari konsumerisme massa.  Tak perlu kita meratapi diri dan berkhawatir dengan keadaan ini.  Langkah tegas yang harus kita perbuat adalah bagaimana caranya kita berguna untuk orang lain tanpa melukai diri sendiri.

*) Penulis adalah Presiden Rumah Dunia dan pengajar FKIP Untirta, STIE
Latansa serta STKIP Setiabudhi Rangkasbitung. Berdomisili di Warunggung Lebak