Senin, 24 Januari 2011

Bella, Kau Membuat Banten Cemburu!


Bella, Kau Membuat Banten Cemburu!
Oleh
Firman Venayaksa dan Pramita Gayatri*)

Pada tahun 2006, ketika kami mengikuti acara World Book Day di Depdiknas, kami berjumpa dengan Izzati, seorang penulis sangat belia. Ia menulis novel ketika berusia delapan tahun yang diterbitkan oleh Dar! Mizan. Diskusi yang digelar dan dipenuhi oleh para pencinta buku itu membersitkan makna yang sama bahwa Izzati adalah anugerah bagi Indonesia. Dengan bahasanya yang polos, cerdas dan apa adanya, ia membeberkan proses kreatifnya. Sebelum masuk dalam dunia tulis menulis, rupanya ia termasuk anak yang keranjingan membaca dan inilah yang diakuinya sebagai  awal di mana ia mengenal dunia tulisan. Sehabis diskusi tersebut, pikiran kami kembali ke Banten. Mungkinkah ada anak seperti Izzati di propinsi yang terkenal dengan para jawara? Yang lebih mementingkan otot dan parang dibandingkan dengan otak sebagai wadah pikiran?

Bella dan Penulis Cilik
Rupanya pertanyaan tersebut dibantah oleh Nabila Nurkhalisah Harris (Bella), seorang gadis kecil yang kini sekolah di SD Peradaban kelas tiga. Pada awal Februari 2007, Bella meluncurkan sebuah novel di Rumah Dunia yang diberi judul Beautiful Days, diterbitkan Dar! Mizan. Novel ini ia tulis ketika berumur delapan tahun yang diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun. Sebuah proses yang cukup melelahkan untuk ukuran anak kecil seusia Bella. Jelas, ini bukan isapan jempol. Di tengah kegalauan kita sebagai orang Banten yang dilihat dari sisi literasi masih sangat mengkhawatirkan, bahkan termasuk dalam sembilan propinsi penyandang buta aksara terbanyak, Bella telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang Banten. Ia tak hanya mematahkan kekhawatiran tersebut. Ia juga menjadi penyemangat bagi kita dan generasi selanjutnya, bahwa Banten bisa bersejajar dengan propinsi lain yang lebih dulu berbudaya literer.
Setelah membaca novel Bella, kami dibawa menuju imajinasi khas anak-anak. Novel ini menceritakan tentang sekumpulan anak-anak panti asuhan. Kendati ceritanya kerap loncat-loncat, kami tetap asyik membacanya. Idiom yang dipergunakan dalam bahasanya pun membuat kami geli; polos dan tak punya beban. Dengan seting Banten, agaknya novel ini memiliki kekhasan tersendiri. Satu hal yang cukup membuat kami terperangah adalah empati yang digulirkan oleh Bella sebagai penulis terhadap masyarakat kalangan bawah membuat kami sadar bahwa anak-anak, dengan kesadaran apa adanya, ternyata memiliki kepekaan yang tak terbantahkan.  Setidaknya hal demikian terungkap dalam karyanya.
Jauh sebelum Bella, beberapa penulis anak sudah mulai bermunculan. Setelah kesuksesan Izatti (8 tahun) dengan novel berjudul Kado Buat Ummi pada tahun 2003, pada tahun 2004, Abdurrahman Faiz (9 tahun) meluncurkan buku puisi Untuk Bunda dan Dunia dan langsung mendapatkan dua penghargaan tingkat nasional, yakni Anugerah Pena Forum Lingkar Pena 2004 dan Anugerah Buku Terpuji Adi Karya Ikapi tahun 2005. Ada juga seorang gadis cilik bernama Qurota Aini yang meluncurkan buku di usia 7 tahun. Ia dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penulis termuda. Dan yang membuat orang geleng kepala adalah Faikar yang membuat buku dengan memakai bahasa Inggris berjudul Dragon War.



Kecerdasan Majemuk
Jika kita memakai pendekatan psikologi, umur seusia Bella adalah masa formal operation, dimana anak sudah dapat mengerti konsep yang lebih kompleks dan bersifat abstrak. Namun tetap saja kemampuan untuk menulis membutuhkan aktifitas otak yang tidak sederhana, dan Bella dapat melakukannya. Tentu saja kemampuan menulis Bella ini tidak hadir begitu saja tanpa sebab, melainkan dipupuk sedikit-demi sedikit oleh orang tuanya—Gong dan Tias—yang memperkenalkan dunia literasi sejak dini bahkan semenjak Bella berada dalam kandungan, yaitu membacakan dongeng. Konsep seperti ini diperkuat oleh Eric K. Ericson bahwa pada usia enam bulan, janin sudah bisa mendengar dan merasakan emosi yang diserap dari luar.
Konsep Kecerdasan Majemuk yang digulirkan oleh Howard Gardner (1983) membagi kecerdasan dalam 8 kelompok; matematik, linguistik, tubuh, musik, spasial, antar teman, diri sendiri, dan alam. Konsep kecerdasan ini memberikan sebuah legitimasi bahwa untuk menguasai suatu materi, pendidik perlu mengetahui “gerbang” kecerdasan anak yang paling potensial  sehingga penyerapan materi ajar menjadi lebih mudah. Ironisnya sistem pengajaran yang diterapkan terkadang tidak menimbulkan motivasi intrinsik anak agar dapat menguasai materi lebih dalam. Dalam materi bahasa Indonesia, diperlukan cara mengajar yang tidak sekadar mengajarkan mengeja “ini ibu, ini budi, ini ibu budi”. Gong dan Tias memulai dengan baik sekali, yaitu dengan memperkenalkan buku di lingkungan rumah. Selain itu mereka membudayakan dongeng, bercerita, dan memfasilitasi anak-anak dengan memberikan buku bacaan anak-anak; dengan banyak gambar, ragam warna, dan sarat pengetahuan. 

Simpan Golok, Asah Pena    
Menulis sebagai salah satu kegiatan otak tertinggi--karena melibatkan beberapa proses kognitif coding, decoding, dan encoding-- tentu saja memerlukan suatu pembiasaan bagi para pelakunya. Seperti yang diungkapkan Pennebakaer, seorang Psikolog yang memusatkan perhatian pada kegiatan tulis-menulis dan efeknya, bahwa dengan menulis ‘ketel uap’ emosi akan terbuka dan ‘uap’ yang akan meledak dapat tersalurkan menuju udara bebas. Suatu analogi yang amat menarik, bukan?! Bayangkan saja jika menulis kita jadikan kegiatan rutin sehari-hari maka stress yang semula akan meledak dapat tersalurkan menjadi energi yang konstruktif. Oleh karena itu rasanya tepat jika idiom Toto St. Radik, “Simpan Golokmu Asah Penamu” lebih dikedepankan dalam menyelesaikan suatu kejadian. Artinya representasi pena sebagai simbol pemikiran yang konstruktif harus lebih diasah dan diutamakan dari pada representasi golok yang cenderung sebagai simbol represif dan destruktif.
Bella dan keluarganya adalah studi kasus yang patut dijadikan cermin bagi orang-orang Banten bahwa menulis dan membaca adalah gerbang menuju pencerdasan. Ya Bella sayang, kau membuat kami cemburu.

*) Pasangan suami istri pencinta literasi. Dianugerahi bayi bernama Syair Langit. Mengontrak rumah di Puri Serang Hijau Blok G1 no 6.