Senin, 24 Januari 2011

DEMOKRASI POP KULTUR


DEMOKRASI POP KULTUR

Oleh Firman Venayaksa


Acta est fabula, plaudite! (Sandiwara telah usai, bertepuktanganlah!) Begitulah istilah latin yang sering kita dengar ketika perhelatan telah usai. Hal ini pun terlihat dengan begitu dramatis pada perhelatan pemilihan menuju Demokrat I yang berakhir dengan kemenangan total untuk Anas Urbaningrum. Di televisi, kita melihat ada sesuatu yang unik terjadi. Tiba-tiba kita melihat Anas menyunggingkan senyum. Padahal selama ini ciri khas senyum/ tawa lebih sering diumbar rivalnya yaitu Andi Mallarangeng. Ketika itu, senyum AM menjadi sangat mahal. Sementara di sisi yang lain, kita menjadi saksi bagaimana Marzuki Ali yang konon warga senior di Partai Demokrat, termenung-menung penuh gelisah, seolah ia ingin segera pergi dari mimpi buruk di malam bolong itu.
Kemenangan Anas tentu tidak hanya bisa kita lihat dari ranah politik yang  begitu hingar bingar diperbincangkan di media. Jika mereka membincangkan pada tataran panggung Broadway yang sesak dengan segala commonsense dan  pseudocode-nya, saya akan lebih melihat pada perspektif di pinggiran Broadway, mengamati dari layar televisi sambil mengunyah kacang rebus dan segelas kopi hangat. Ya, saya dan mungkin para penonton televisi lainnya lebih melihat perhelatan itu tak berbeda dengan tontonan sinetron Raam Punjabi style yang penuh dengan intrik, tangisan dan ejakulasi rasa haru.
Pada prinsipnya, saya melihat ada beberapa tanda-tanda kecil yang bisa dibahas dari hasil tontonan itu. Pertama, di dalam perhelatan menuju Demokrat I, kita sebagai penonton dan pembaca media telah diteror habis-habisan oleh kubu Andi Mallarangeng. Teror visual itu sangat membuat kita jengah, padahal selaku penonton yang tak punya suara dalam kongres tersebut, kita tak perlulah diajak serta. Di media massa, di billboard, di tempat-tempat keramaian, AM selalu datang tanpa diundang dalam keseharian kita. Bahkan di tempat kongrespun, masyarakat diserang oleh umbul-umbul, pamflet bahkan balon udara. Jika mungkin kubu AM punya pesawat tempur, pastilah pesawat tersebut akan demo di udara dan menuliskan namanya di langit Bandung.
Kekalahan telak AM pada putaran pertama pemilihan yang hanya bisa meraup 82 suara tentu bisa kita maknai lebih dalam. Pada konteks ini, bagi Partai Demokrat yang konon disinyalir sebagai partai modern jelaslah bahwa media bukan segalanya. Iklan-iklan persuasif itu ternyata tak lagi bisa bertaring. Ibas yang seolah dijadikan simbol yang identik dengan Cikeaspun tak terlalu berarti. Buruknya gaya semacam ini jelas akan merusak citra demokrasi. Kita mahfum bahwa pada wilayah popculture, iklan masif di media massa akan memiliki pengaruh. Namun pentinglah juga kiranya ia mengerti bahwa yang dibidik bukanlah masyarakat luas. Penggunaan patronase dan penguasaan media sebagai senjata agaknya harus disimpan pada perang politik lain.
Kesalahan target bidik inilah yang pada akhirnya menghancurkan logika politik yang dibangun kubu AM. Pada akhirnya kita pun menjadi saksi dari kegelian yang dipertontonkan di televisi. Mas Udin, penjual buku yang sama-sama menonton acara live pun ikut komentar “Lha wong Bang Andi Mallarangeng sudah kalah di ronde pertama, kok iklan si sipit dan si belo itu masih diputar di televisi. Punya banyak duit kali ya.” Nah lho.
Tontonan kedua yang bisa kita saksikan adalah bagaimana posisi Anas Urbaningrum ketika diapit oleh dua rivalnya. Anas berada di posisi tengah dengan adegan sedang merangkul AM dan MA. Kendati perhitungan belum beres, Anas seolah ingin memperlihatkan sandiwara ini kepada publik. Sebagai politisi yang sering mejeng di televisi, tentu ia sangat sadar kamera. Pilihan posisi semacam itu pun saya yakin didasari atas kesadaran selebritasnya. Ada beberapa tafsir yang muncul dalam adegan yang ditonton oleh jutaan pemirsa televisi. Rangkulan sering diidentikan sebagai kehangatan, persaudaraan atau keharmonisan. Pada wilayah citraan ini, tentu akan menjadi sangat elegan. Tafsir pertama menjadi ideal bagi Partai Demokrat yang sekarang ini memang sedang membius banyak masyarakat. Setidaknya begitulah yang bisa kita ambil simpulannya.
Namun tafsir adalah logika nakal yang bisa jadi diada-adakan atau dikait-kaitkan. Sebagai sebuah ilmu, tafsir memang sangat terbuka akan kemungkinan-kemungkinan lain. Pada tafsir kedua, kita bisa menyaksikan bagaimana posisi Anas ingin mengatakan kepada pemirsa bahwa ia adalah “anak muda” yang bisa memperlihatkan taringnya. Ia bisa mengalahkan AM dan MA dengan sangat smooth, buktinya sehabis “peperangan” dua orang ini bisa dipegang dan tidak melakukan reaksi berlebihan. Tidak sedikit sebetulnya, sehabis pemilihan apapun, orang-orang kalah melakukan pengingkaran terhadap kekalahannya dan kemudian menghasut yang lain agar melakukan “blokade demokrasi”. Disinilah hebatnya Anas. Dengan gayanya, ia bisa membuat hal itu menjadi tak terjadi.
Ketiga, selain subjek pelaku “peperangan” tersebut, ada satu tanda lagi yang bisa kita maknai dari kemunculan media di dalam perhelatan itu. Kita mahfum benar bahwa metrotv dan tvone adalah dua media sejenis yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya berseteru untuk menyediakan informasi yang cepat. Pada posisi ini, persaingan positif menjadi tak terbantahkan. Kita sebagai penonton adegan itu diberikan tontonan segar ketika melihat Tina Talisa langsung menyeruduk massa yang mengelilingi tiga kontenstan tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana metrotv dan stasiun televisi lain kebakaran jenggot ketika Tina, dengan wajah letih dan makeup-nya yang kacau balau tiba-tiba berada di tengah kerumunan dan berhasil mengambil statement pertama kali dari ketiga kontestan. Tvone telah memeragakan kehebatannya dengan mencuri adegan di tengah hiruk pikuk pesta kemenangan. Jika Anas berkata bahwa kongres kali ini adalah kemenangan dari seluruh partai demokrat, maka bagi tvone, inipun menjadi kemenangan mereka.
Acta est fabula, plaudite!


Tanah Air, 2010