Senin, 24 Januari 2011

DI ANTARA NOVEL DAN FILM


Oleh Firman Venayaksa[1]

Teeuw mengungkapkan bahwa tidak ada sebuah tekspun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain.[2] Oleh karena itu dalam menciptakan sebuah teks, proses saling mempengaruhi menjadi sebuah kelaziman. Salah satu proses seperti ini ada yang mengistilahkan adaptasi dan transformasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah adaptasi dijabarkan sebagai penyesuaian,[3] sedangkan trasnformasi adalah perubahan rupa.[4] Untuk memudahkan pengistilahan ini dan merujuk pada definisi tersebut, istilah adaptasi lebih sesuai dipakai dalam tulisan ini.
Dalam menciptakan karya, adaptasi sering sekali dilakukan oleh para seniman, seperti adaptasi dari puisi ke dalam musik, cerpen ke dalam komik, dari novel ke dalam film, ataupun sebaliknya. Bahkan dalam sejarah sinema dunia, khususnya Hollywood, 90% karya skenario film dan televisi berasal dari adaptasi.[5] 
David W. Griffith, seorang perintis film pernah mengatakan bahwa “tugas yang ingin saya lakukan di atas segala-galanya adalah untuk membuat Anda melihat.” Ucapan ini menemui padanannya dalam ucapan pengarang novel Inggris Joseph Conrad yang ditulis dalam kata pengantar novelnya, Niger of The Narcissus, enam belas tahun setelah Griffith mengemukakan pendiriannya sebagai pembuat film. Ucapan Conrad itu berbunyi, “tugas yang ingin saya laksanakan, dengan bantuan kata-kata tertulis adalah untuk membuat Anda mendengar, merasakan, dan di atas segala-galanya membuat Anda melihat.” Baik sutradara Griffith maupun novelis Conrad menunjukkan satu kesamaan tujuan, biarpun bidang mereka tak sama.[6]
Di Indonesia, proses adaptasi dari novel ke film—baik layar lebar maupun sinetron-- telah lama dan banyak dilakukan, seperti pada film layar lebar Roro Mendut karya sutradara Ami Priyono yang diangkat dari novel Roro Mendut karya Y.B. Mangunwijaya, film Atheis karya sutradara Suman Djaya yang diangkat berdasarkan novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja, Si Doel Anak Betawi karya Sutradara Suman Djaya yang diangkat dari novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Dt. Madjoindo, film Darah dan Mahkota Ronggeng karya sutradara Ami Priyono yang diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, film Salah Asuhan karya Asrul Sani yang diangkat berdasarkan novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, film Ca Bau Kan karya sutradara Nia diNata yang diangkat dari novel Ca Bau Kan karya Remy Sylado, dan film Eiffel I’m In Love karya Nasry Chepy yang diangkat dari novel Rachmania Arunita. Sedangkan film sinetron diantaranya adalah Siti Nurbaya karya sutradara Dedi Setiadi yang diangkat berdasarkan novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang dilanjutkan dengan Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati (TVRI), Lupus karya Hilman Wijaya (Indosiar), Padamu Aku Bersimpuh dan Al Bahri karya Gola Gong (RCTI dan TV7), Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar (RCTI), dan Keluarga Cemara karya Arswendo (RCTI). 
Lahirnya pengadaptasian dari novel ke dalam  film biasanya dikarenakan novel tersebut sudah terkenal sehingga para apresiator ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana jika difilmkan. Selain itu ada juga yang menitikberatkan karena ide ceritanya yang menarik. Namun ketika difilmkan, hadir pula rasa kecewa terhadap hasilnya. Ernest Hemmingway, sering dikutip orang sebagai sastrawan Amerika yang sering kecewa jika novel-novelnya difilmkan atau diangkat ke layar putih. Malah pemenang hadiah nobel ini bersedia membayar biaya yang dikeluarkan produser film, asalkan salah satu film hasil adaptasi dari novelnya tidak diedarkan. Selanjutnya penulis novel Indonesia yang kecewa adalah Motinggo Busye, sehingga ia terdorong untuk terjun ke dunia film. Begitu juga dengan YB. Mangunwijaya yang merasa kecewa dengan film Roro Mendut garapan sutradara Ami Priono. Hadirnya kekecewaan ini diakibatkan oleh ketidakpuasan antara film yang ditonton dengan cakrawala harapan yang hadir pada pembaca.
Hadirnya kekecewaan atau sebaliknya akan menjadi hal yang sangat biasa dalam proses adaptasi karena  proses ini selalu menimbulkan suatu perubahan sebagai akibat dari perubahan media dan pemaknaan (interpretasi).
Setelah menonton film The Lord of the Rings yang diadaptasi dari novel Tolkien tahun 1954, Krevolin menyatakan bahwa The Lord of the Rings benar-benar merupakan adaptasi yang sempurna. Namun adaptasi ini bukan karena betul-betul mirip dengan novel aslinya. Adaptasi tersebut mengagumkan karena meskipun memiliki banyak kesamaan dengan novel aslinya, adaptasi tersebut sukses menangkap esensi, ruh dan jiwa novel asli. Itu semua adalah yang menjadi kunci adaptasi yang sukses—bukan melakukan transkripsi secara harfiah dan setia terhadap materi sumber, yang dalam banyak hal mustahil untuk dilakukan, melainkan menangkap kebenaran dari karya asli dan membawanya ke layar lebar.[7] 
Dalam perkembangan selanjutnya hadir pula sebuah novel yang berawal dari film. Kejadian ini merupakan kebalikan dari proses sebelumnya. Pekerjaan yang asal mula dikerjakan bersama-sama sebagai sebuah proses kolektif dipindahkan ke dalam novel yang biasanya berupa pekerjaan individu. Pengadaptasian ini menjadi menarik karena akan timbul sebuah interpretasi tunggal dari seorang novelis terhadap film yang ditontonnya. Sebagai contoh, film Dead Poets Society karya Tom Schulman diadaptasi ke dalam bentuk novel oleh N. H. Kleinbaum pada tahun 1989[8], begitu pula pada pada pertengahan tahun 2003, cerita film Matrix  dibuat novelnya dengan judul Matrix Warrior: Being The One. Buku karangan Jake Horsley itu mengkaji aspek-aspek filosofis dan teologis yang terkandung dalam film karya Wachowski bersaudara itu.
Di Indonesia, proses pengadaptasian dari film ke dalam novel belum banyak dilakukan. Hal ini disebabkan kurangnya minat dari para penerbit buku untuk menerbitkan dengan asumsi bahwa masyarakat di Indonesia lebih menyukai tontonan dari pada bacaan. Asumsi seperti ini tentu saja mudah dibantah karena masyarakat tonton dan masyarakat baca bisa jadi berbeda. Namun seiring mulai meningkatnya minta baca di kalangan masyarakat, adaptasi dari film ke dalam novel pun akhirnya dilakukan, seperti pada novel anak Jendral Kecil karya Gola Gong (Dar! Mizan, 2002) yang diadaptasi dari Telesinema Jendral Kecil yang disiarkan oleh RCTI pada bulan Juli 2002 dalam rangka Hari Anak Nasional. Sementara pada film layar lebar terjadi pada film Biola Tak Berdawai karya Sekar Ayu Asmara yang dinovelkan oleh Seno Gumira Ajidarma (Akur, 2004), 30 Hari Mencari Cinta dinovelkan oleh  Nova Arianti Yusuf (Gagas Media, 2004), film Brownies karya Hanung Bramantyo dinovelkan oleh Fira Basuki, Film Bangsal 13 dinovelkan oleh FX. Rudi Gunawan (Gagas Media, 2004) dan film Rindu Kami PadaMu karya Garin Nugroho dinovelkan oleh Garin Nugroho dan Islah Gusmian (Nastiti, 2005). Dan yang paling menarik adalah cerpen Tentang Dia karya Melly Goeslow (Gagas Media, 2005) yang ditulis ke dalam bentuk skenario oleh Titien Wattimena, difilmkan oleh sutradara Rudi Sujarwo, kemudian dinovelkan kembali oleh Moamar  Emka (Gagas Media, 2005), bahkan dikomikkan pula!
Jika dahulu pada era 90-an misalnya, para novelis tertarik menjadi penulis skenario seperti Zara Zetira, Hilman, dan Gola Gong, kini justru sebaliknya. Titien Wattimena, salah seorang penulis skenario muda yang cukup diperhitungkan, kini mulai pula menggarap novel. Novel perdananya yang berasal dari skenario adalah Menjaring Matahari  (Gagas Media, 2005).
Novel yang diadaptasi dari film memang menjadi fenomena tersendiri. Dari segi produksi, novel adaptasi akan mudah “diburu” oleh para pembaca karena cerita ini sebelumnya telah dikenalkan melalui film. Dampak dari menovelkan film, biasanya disertai pula dengan desain cover buku yang menonjolkan tematik dari film tersebut, seperti simbol atau foto-foto para pemain. Yang menjadi permasalahan adalah ketika bahasa visual yang ditransfer ke dalam bahasa sastra. Kecenderungan penulis terjebak dengan bahasa skenario yang sangat deskriptif dan kaku. Sebagai contoh, kita bisa membaca novel 30 Hari Mencari Cinta yang ditulis oleh Nova Ariyanti Yusuf. Pada novel ini kita seperti membaca draft skenario. Yang membedakan hanya cara menulisnya saja (terutama dialog) yang seperti novel. Hal lainnya sungguh mengecewakan. Padahal mengadaptasi sebuah film tidak sekedar menuliskan kembali secara harfiah. Ada banyak hal yang bisa diubah dan diperhalus menjadi bahasa yang lebih sastrawi. Saya tidak bisa menemukan kecerdasan Nova seperti halnya ketika ia menuliskan novel Mahadewa Mahadewi.
Sudut pandang penceritaan adalah salah satu dari sekian banyak yang bisa dikotak-katik oleh sang adaptator. Novel Biola Tak Berdawai yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma adalah karya yang cukup menarik untuk dibahas. Pada filmnya kita tahu bahwa tokoh Dewa adalah seorang anak yang memiliki jaringan otak yang rusak berat dan memiliki kecenderungan autistik. Dalam film, tokoh Dewa tidak bisa berbicara, pandangannya selalu ke bawah, bahkan sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Tetapi dalam novel ini, justru tokoh Dewa menjadi penutur. Dia menjadi orang yang serba tahu. Selain itu Seno juga berusaha untuk memasukkan referensi lainnya seperti kisah-kisah pewayangan dan per-tarot-an untuk memperkuat tema penceritaan dari film tersebut. Novel Brownies yang ditulis oleh Fira Basuki pun demikian. Tokoh penuturnya dirahasiakan. Pembaca terus diajak bertanya-tanya siapakah yang bertutur di dalam cerita ini, yang pada akhirnya penutur tersebut mengungkapkan jati dirinya bahwa ia adalah rasa yang hadir di dalam ketulusan membuat sesuatu. Tokohnya bukan lagi seseorang, tetapi sesuatu.
Adalah Moamar Emka yang mencoba pula berbuat hal serupa dalam novel Tentang Dia. Sama seperti yang dilakukan Fira, Emka pun mencoba merahasiakan siapa penuturnya, yang pada akhir penceritaan, secara tersirat bahwa tokoh yang bertutur adalah seseorang yang menonton film Dia. Dalam dunia kesusastraan, siapapun dan atau apapun boleh menjadi penutur. Namun ada sebuah kelogisan berpikir yang harus tetap dijunjung tinggi agar terjalin sebuah keutuhan dalam penceritaan. Nampaknya Emka agak gegabah dengan menjadikan “seorang penonton” sebagai tokoh penutur, karena walaupun novel yang ia tulis setelah film itu selesai dipertontonkan kepada khalayak, namun kita harus menyadari bahwa penceritaan yang hadir pada karya ini tetap merupakan “masa sekarang” bukan “masa lampau”. Sang penuturpun harus masuk secara utuh di dalam cerita yang diusung, tidak berjarak seperti yang dilakukan Emka. Untuk memudahkan pembuktian bahwa ada kerancuan dalam sudut pandang ini, mari kita analisis sejenak.
Di taman kampus, Randu terlihat tengah menelepon seseorang. Aku melihat kejadian itu dengan tangan masih memegang bolpen. Aku tak mau ketinggalan setiap adegan yang terjadi. Aku bebas mengamati Randu, tapi sebaliknya, dia tidak bisa menemukan persembunyianku. (hal. 81). 

Tokoh Aku alias penutur terkesan berada di dalam cerita tersebut, --pada waktu yang sama-- ketika randu sedang menelepon seseorang. Tetapi jika kita merujuk pada halaman 124, yang merupakan pembuka rahasia sang Aku, ternyata dia hanyalah seorang penonton yang sedang duduk menonton film.

Aku masih duduk di sofa berwana merah, di sebuah ruangan besar dengan hawa AC yang menggigit. Orang-orang disekitarku beranjak dari duduknya ketika lampu menyala terang. Tinggal aku seorang diri. Berharap pesawat kertas itu jatuh ke pangkuanku membawa pesan kebahagiaan di tengah rasa kehilangan. Aku mengakhiri catatanku.

Bagaimanakah mungkin seorang penutur berada di dua tempat sekaligus dalam waktu dan jarak yang jelas-jelas berbeda? Satu penutur berada dalam cerita dan satu lagi sedang menonton keberlanjutan cerita sambil bercucur air mata? Logika berpikir yang tidak utuh dan terkesan begitu dipaksakan. Seorang novelis harusnya bisa memisahkan antara realitas karya dan realitas ketika ia sedang berpijak di bumi. Saya kira, jika memang Emka tak kuasa membuat sebuah kebaruan seperti yang dilakukan oleh Fira atau Seno, cukuplah ia memakai gaya bertutur orang ketiga tunggal agar tulisannya selamat dan tidak terkesan mengada-ada.
 Namun demikian, novel-novel yang diangkat dari film selalu menguntungkan dari segi pemasaran. Buku-buku seperti ini selalu dicetak ulang, begitu fenomenal, menambah perbendaharaan dan keunikan tersendiri dalam jagad kesusastraan Indonesia.

Tanah Air, 2005


[1] Kandidat Magister Humaniora UI dan Koordinator Program Rumah Dunia-Banten.
[2] A.Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, (Jakarta: Pustaka Jaya, 2003), hal: 120)
[3] Pusat Bahasa, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003) hal.6.
[4] Pusat Bahasa ibid. hal. 1209.
[5] Lihat Richard Krevolin, Rahasia Sukses Skenario Film-film Box Office.( Bandung: Penerbit Kaifa, 2003)
[6] Asrul Sani, Surat-surat Kepercayaan, (Bandung: Angkasa, 1997) hal. 188.
[7] Krevolin, op.cit, hal. 13.
[8] Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Septina Ferniati (Jalasutra, 2004)