Senin, 24 Januari 2011

ENDANG RUKMANA SAKIT ½ JIWA

ENDANG RUKMANA SAKIT ½ JIWA
Oleh Firman Venayaksa*)

Membaca peta kesusastraan di Banten kini memang cukup menggairahkan. Jika dulu, peta kesusastraan di Banten hanya dikuasai oleh Gola Gong dan Toto ST Radik, kini ada jamaah sastrawan berikutnya yang begitu rapat mengimani dunia kata-kata. Salah satu jamaah yang menonjol itu bernama Endang Rukmana. Debut pertamanya dimulai dengan membukukan puisi-puisi yang diberi judul “Hanoman Mencari Cinta.” Yang diakuinya sebagai metaforis dari dirinya, Hanoman adalah Endang. Jika Anda membaca buku puisinya itu, Anda akan melihat Endang alias Kori Lawa sebagai seorang penulis puisi yang gagal, selain sebagai pencari cinta yang juga gagal. Tentu saja pernyataan saya ini bisa dipatahkan oleh siapa saja karena subjektivitas saya yang begitu kental. Namun itulah hasil keterbacaan saya terhadap kumpulan puisi perdananya.
Menginjak kuliah di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya-UI, saya sering mengamati Endang sebagai mahasiswa yang begitu besar mulut. Pengamatan saya terhadapnya mungkin melebihi gurunya sendiri yaitu Gola Gong dan Toto ST Radik, karena secara kebetulan saya dan Endang berada di satu almamater yang sama, satu fakultas yang sama dan satu asrama yang sama, kendati beda strata. Besar mulut secara konotatif memang cenderung negatif, tetapi dalam konteks labelisasi terhadap Endang Rukmana, justru menjadi positif. Ia kerap kali mempromosikan dirinya sebagai Mr. Unicef karena ia pernah menjuarai The Young Writers Award pada tahun 2004. Besar mulut berikutnya bisa juga diaplikasikan dalam kinerjanya sebagai seorang penjual nasi uduk. Setiap pagi ia selalu menggedor pintu-pintu asrama dan berteriak dengan lantang “nasi uduk, nasi uduk, minumnya boleh apa saja, makannya tetap nasi uduk.” Atau teriakan lainnya, “Dengan membeli nasi uduk, dijamin mahasiswa UI bakal cerdas-cerdas.” Dan itu dilakukan terus menerus tiap pagi, sehingga saya yang susah bangun tidur itu tak usah lagi memakai alarm supaya bagun pagi karena ada Endang, sang alarm asrama.
Awalnya saya begitu kecewa dengan dirinya karena semenjak menjadi  penjual nasi uduk, waktunya habis untuk mencari uang. Tak ada lagi tulisan-tulisan yang bisa saya baca dari pemikirannya. Bahkan ketika diajak bergabung dalam Komunitas Rumput Liar (KRL-Sastra) dan Komunitas Orang Susah Tidur (KOST-Filsafat) yang saya dirikan, ia tak merespon sedikitpun. Setelah saya keluar dari asrama, saya mencoret nama Endang Rukmana sebagai sastrawan Benten dalam benak saya. Namun ketika saya sedang berbincang-bincang dengan Prof. Apsanti di kantin sastra (Kansas), tempat nongkrong Dian Sastro, ia tiba-tiba menghampiri dan langsung mengeluarkan buku “Sakit ½ jiwa” yang diterbitkan oleh Gagas Media. “Ini karya saya”. Dengan gaya besar mulutnya ia pun memporomiskan buku tersebut kepada Prof. Apsanti dan langsung membelinya. Lalu ia menuliskan di depan buku yang ia dedikasikan kepada saya, “apa yang kini dan akan saya lakukan, adalah sekadar respon alamiah terhadap kondisi yang saya alami.”
Rupanya, di sela-sela kesibukannya sebagai penjual nasi uduk, ia masih juga menulis. Bahkan pada bulan selanjutnya, ia mengeluarkan novel berikutnya “Gotcha” yang diadaptasi dari film layar lebar yang sekarang sedang ditayangkan di bioskop-bioskop.
***
Novel “Sakit ½ Jiwa” adalah novel petualangan dengan tokoh utama bernama Bobi, dengan segi fisik berrambut botak, agak sedikit jail dan nyeni yang suka bertualang. Dulu, saya sempat memergoki Endang dengan membotaki rambutnya sampai ludes dan ikut Mapala UI, bertualang ke beberapa tempat. Tapi saya benar-benar tak menduga jika hal tersebut merupakan proses kreatifnya untuk mendalami tokoh Bobi dalam rangka menuntaskan novelnya.
Jika Anda membaca novel ini, maka akan terlihat sebuah intertekstualitas dengan novel “Balada Si Roy” yang ditulis Gola Gong. Begitu pula dengan latar belakang setting Banten (Baduy) yang sangat kental. Tapi di dalam novel “Sakit ½ Jiwa” Endang Rukmana mencoba untuk mendekonstruksi Roy yang berrambut gondrong dan “serius” dengan tokoh Bobi yang botak dan kocak, walaupun dari sisi lain, Endang Rukmana tidak mengubah tokoh Roy yang digilai wanita dan penyandang playboy cap kutil. Di dalam novel ini, Endang juga memasukkan   tokoh Rys Revolta, seorang wartawan, yang secara real  memang sempat mengada di daerah Banten sebagai wartawan Radar Banten sekaligus penyair yang kini telah almarhum. Sayangnya alasan tokoh Bobi bertualang ke Baduy dikarenakan ingin menemukan ari-arinya di daerah Sasaka Domas setelah mendapatkan wangsit  dari seorang kakek gaul yang menyelinap ke dalam hidupnya dengan cara yang ngawur dan unrealis, sehingga pembaca tidak dibawa pada pergumulan logika, tapi lebih ke ritme mistis  yang secara pemikiran sulit untuk dipaparkan. Tapi Endang memang Sakit ½ jiwa, wajar jika mau dikungkung logika.
Kelebihan dari novel ini tentu saja pembaca diajak untuk terus tertawa, dan mungkin inilah yang dibidik oleh Endang. Selain itu dengan sampul buku yang imajinatif dan nongkrongnya komentar Tora Sudiro di depan buku pasti menarik minat pembaca untuk membeli.

Tanah Air, 2006
*) Presiden Rumah Dunia dan pengajar di FKIP Untirta.