Senin, 24 Januari 2011

GELIAT BUMI MULTATULI


Lebak 181 Tahun
Geliat Bumi Multatuli

Oleh Firman Venayaksa

Aku merindukan desaku
lima belas kilo dari Rangkasbitung.
Aku merindukan nasi merah,
ikan pepes, desir air menerpa batu,
bau khusus dari leher wanita desa,
suara doa di dalam kabut.

Puisi ”Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam” yang ditulis oleh Rendra pada penghunjung 1990 di atas adalah deskripisi sederhana bahwa eksotisme tetap dirindukan oleh sejumlah orang. Puisi tersebut menekankan mengenai seorang pemuda asal Rangkasbitung yang hinggap di Belanda dan membuncah kerinduannya ketika mengenang kembali Rangkasbitung sebagai tempat kelahirannya, tempat ia dibesarkan. Tetapi apakah cukup dengan persoalan eksotis lantas kita bisa menikmati daerah itu?

Kemiskinan
Kegelisahan seorang pemuda Rangkasbitung, seperti yang termaktub di dalam puisi Rendra adalah kegelisahan bersama. Selesai SMA, mau tak mau, anak-anak muda yang ingin memperkaya ceruk pikirannya harus mengembara pergi meninggalkan Lebak untuk mencari penasaran pengertian. Kendati terkesan jumawa, hingga saat ini tak ada Perguruan Tinggi yang punya pamor kuat di Lebak, sehingga tak ada jalan lain selain harus merambah ke kota yang lebih berwibawa, bernas dan menggoda. Persoalannya, ketika kuliah selesai, apa yang harus dilakukan di Lebak? Sementara kota-kota yang ditemui begitu membius perasaan anak-anak muda Lebak.
Setiap hari, jika Anda mengamati Stasiun Kereta Api di Rangkasbitung, orang-orang bergelantungan menuju kota impian Jakarta. Ada yang bawa pisang, ketela, durian, emping bahkan binatang ternak. Selain itu, diantara rutinitas dan kerjakeras, terselip juga mata sayu para mahasiswa yang lumer deodorant-nya karena kalah saing dengan keringat dan bau alami binatang ternak. Hidup di Lebak hanya sekadar tempat menginap, selanjutnya, aktivitas kehidupan banyak tersedot ke Timur.
Tinggal di Lebak, dengan kondisi yang masih terbatas adalah pilihan hidup yang mencengangkan. Mendengar anak-anak muda Lebak yang lebih memilih menjinjing map dan proposal, menyandarkan hidupnya dari projek-projek APBD, membuat LSM hanya sekadar menakut-nakuti Lurah dan Kepala Sekolah, menjadi Ketua Organisasi Kepemudaan untuk menjadi batu loncatan--seperti halnya menjadi wartawan bodong yang lebih banyak menciptakan budaya terasi daripada budaya literasi-- tentu bukan godaan yang menakjubkan.  
Kemiskinan yang terus menjadi bayang-bayang Kabupaten Lebak adalah kondisi realitas yang sangat kita tunggu ujungnya. Kemiskinan di Lebak bisa kita baca dari novel Max Havelaar. Di dalam novel ini digambarkan bagaimana rakyat begitu sengsara, kerbau-kerbau hanya dimiliki orang-orang kaya, ladang dan sawah hanya menjadi mimpi yang tak terbeli. Rakyat Lebak sekadar pemelihara, selanjutnya, ketika panen tiba, rentenir dan cukong-cukong datang ke kampung-kampung, membeli dengan harga serendah-rendahnya. Sehabis 181 tahun terlewati, mengapa Lebak selalu tertimpa kemiskinan? Mesjid Al-araf (baca: tinggi) yang konon menjadi penyeimbang atas nama Lebak yang selalu di bawah ternyata belum bisa menjadi ikon yang layak dibanggakan.

Bara Menjadi Daya
Tak perlulah kita mengekspose Sumber Daya Alam yang memang sangat melimpah di Lebak ini. Hal yang perlu dibenahi secara menyeluruh dan masif adalah persoalan Sumber Daya Manusia. Kita bisa tengok bagaimana Jepang atau Singapura yang sebetulnya tak terlalu memiliki SDA yang membahana bisa ikut bicara di ruang internasional. Perubahan yang terjadi dan bisa berdaya saing dengan negara besar adalah karena mereka memiliki Sumber Daya Manusia yang cakap dan mumpuni. Jika ingin berkembang dengan pesat, maka pendidikan harus menjadi ujung tombak warga Lebak. Di Jepang, guru-guru sangat dihormati, di Lebak guru-guru malah dipolitisasi. Dana Bantuan Operasional Sekolah yang seyogyanya digunakan untuk kepentingan pendidikan malah diselewengkan, hingga akhirnya banyak yang masuk penjara. Gaji guru hasil sertifikasi yang akan lebih menarik jika dibelikan buku-buku referensi untuk memperkuat pengajaran di kelas malah menjadi uang talangan mobil kreditan. Paradigma berpikir yang keliru ini jelas harus segera dihentikan. Jika semua menjadi orang-orang amanah, bukan tidak mungkin, semenjak lama, Lebak bisa lepas dari arus kemiskinan yang mewabah itu.
Rangkasbitung yang dicanangkan sebagai kota pelajar tempo hari adalah fenomena yang cukup menggembirakan. Mimpi semacam inilah yang harus selalu dipelihara. Kita tahu bahwa pendidikan sejatinya akan mengubah taraf hidup manusia. Warga akan mendapatkan cara pandang berbeda dari rutinitas kehidupan selama ini. Namun, seyogyanya, mimpi semacam itu harus dilanjutkan dengan budaya membaca yang baik. Jika hingga saat ini belum terbentuk semacam “Kantor” apalagi “Badan” Perpustakaan di Lebak, maka kota pelajar hanya nonsense alias omong besar. Sebagai warga Lebak, kita harus malu dengan Uwes Qorny yang dengan inisiatifnya yang terarah telah membentuk perpustakaan Saija-Adinda, kendati perpustakaan tersebut lebih layak dikatakan sebagai kuburan buku karena tidak ada managerial dan aktivitas radikal di dalamnya.
Mimpi Kota Pelajar jangan hanya sekadar keinginan dari Pemda Lebak saja, tetapi harus menjadi keinginan bersama. Bagaimana mungkin cita-cita itu akan mewujud dan mewabah jika masyarakatnya tak berdaya? Jika ingin mengkonkretkan Kota Pelajar, maka buku-buku harus melimpah dan mudah diakses. Apalagi Undang-undang No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan sudah digulirkan. Aneh rasanya jika ingin menjadi kota pelajar tapi tak mengindahkan undang-undang tersebut. Pemda bersama masyarakat harus menggulirkan gerakan “Lebak Membaca.” Perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat harus didirikan dipelbagai tempat.
Kita mengenal Multatuli  bukan karena ia lama hinggap di Rangkasbitung. Kita mengenal jejak-jejaknya, mendapatkan bara di dadanya dari lembaran-lembaran kertas bernama buku. Buku adalah jendela dunia. Dari celah-celah jendela itu, kita bisa mengintip dengan seksama hiruk pikuk warga dunia dan sedikit membandingkan dengan rumah yang selama ini kita diami.

*) Dosen Pendidikan Bahasa dan Seni, Untirta dan Presiden Rumah Dunia.