Senin, 24 Januari 2011

KIAT MENULIS RESENSI BAGI PEMULA


KIAT MENULIS RESENSI BAGI PEMULA[1]
Oleh
Firman Venayaksa[2]

Ketika pertama kali Anda memutuskan membaca sebuah buku, kira-kira apa motivasi pertama Anda?
a.       karena buku tersebut sedang trend
b.      covernya keren
c.       tertarik setelah membaca resensi
d.      pengen aja
Sebelum memulai tulisan ini, ada baiknya saya menceritakan tentang seorang pencinta buku bernama Taufik Rahzen. Seperti artikel yang ditulis oleh Muhidin M Dahlan, Taufik Rahzen adalah pencinta, bahkan sebut saja penggila buku yang cukup menarik untuk ditelusuri cara pandangnya. Baginya buku tak hanya diidentikkan sebagai benda mati yang dibiarkan begitu saja, menjadi koleksi di antara himpitan lemari dan disimpan di ruang tamu agar sang pemilik rumah itu terkesan literat. Taufik Rahzen lebih suka mengidentikkan buku serupa ibu bagi pengetahuan. Mirip cara penghormatan orang Bali yang saban bulan Saraswati tiba mengupacarai buku-buku. Pertemuan antara dirinya dengan buku dianggap bukan sekadar pertemuan biasa. Ia merasakannya sebagai pertemuan magis dan cenderung ajaib. Makanya di kota-kota tertentu seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta atau Bali ia tahu persis di mana bisa menemukan “magma buku.”
Pengalaman Taufik Rahzen dengan buku-buku (terutama buku tua) tentu akan berbeda dengan kita. Salah satunya mungkin disebabkan karena maqam kita sebagai yang masih begitu mualaf di dunia literasi. Perjumpaan kita dengan buku belum dianggap sebuah keistimewaan. Kita masih menjumpai buku seperti benda-benda umum yang tak memiliki daya magis apapun, bahkan tak menarik seperti benda-benda pajangan di etalase mal. Cerita tentang Taufik Rahzen dan perlakuannya terhadap buku penting untuk kita jadikan cermin bahwa buku harus diperlakukan secara layak.
Pertanyaan di atas sengaja saya munculkan untuk memulai kiat menulis resensi ini karena jawaban atas pertanyaan itu bisa dijadikan modal untuk menggemasi perbukuan dan hal ikhwal yang menelingkupinya sehingga kita piawai untuk menjadi peresensi. Secara umum empat jawaban di atas bisa jadi semua benar. Jika jawaban Anda condong pada “a” maka Anda adalah tipe orang yang memulai kesadaran membaca buku dari luar diri Anda. Tipe ini sangat wajar apa lagi di era pop culture dewasa ini. “Trend” “lagi in” “lagi ngepop” atau apapun istilahnya ternyata menjadi bagian dari keseharian kita. Dengan meng-up date selera pasar, setidaknya Anda akan bisa lebih mudah mengikuti pembicaraan terbaru seputar perbukuan. Katakanlah sekarang sedang ramai  novel dari karya-karya Andrea Hirata, lantas Anda menjadi ingin tahu lalu tergerak membacanya, itu tentu bukan sebuah kebetulan. Masyarakat di sekeliling Anda bakal menjadi penentu bagi Anda tergerak untuk masuk pada wilayah bacaan. Salahkah selera tipe semacam ini? Tentu tidak. Namun sebagai seorang peresensi, Anda tidak bisa hanya memakai naluri pasar. Jika perlu, Andalah yang seharusnya menjadi bagian penentu selera pasar ini. Jika Anda terus menggunakan gaya semacam ini, tulisan resensi Anda bisa kehilangan momentum dan momentum tentu menjadi salah satu pertimbangan paling penting jika tulisan resensi Anda ingin nongkrong di media massa.
Jika Anda lebih cenderung memilih “b” maka Anda adalah tipe pembaca visual, yang mementingkan wilayah “kesan pertama begitu menggoda.” Cover sebuah buku, bagi orang-orang tertentu memang menjadi sangat menggairahkan. Bahkan dalam suatu kesempatan, dengan tipe semacam ini, Anda bisa jadi seorang penerawang. Hanya dengan melihat cover, Anda  tiba-tiba berani mengeksekusi bahwa buku yang Anda lihat itu layak untuk dibaca, bukunya pasti bagus atau sebaliknya. Wajar pada akhirnya, para penerbit berani membayar mahal si cover maker. Namun bagi para pemilih “b” harap Anda hati-hati karena pandangan pertama tak selamanya bisa dijadikan sebagai referensi apa lagi objek penghakiman bahwa buku yang Anda lihat itu jelek atau sebaliknya. Memahami buku adalah memahami setiap huruf yang berjejalan di dalam buku itu.
Kemudian, jika Anda memilih “c” saya berani mengatakan “selamat datang wahai calon peresensi.” Kalau Anda hendak menjadi seorang musisi, hal awal yang harus Anda mulai adalah mengapresiasi segala bentuk musik. Disini saya ingin menegaskan bahwa jika ingin menjadi seorang peresensi, maka Anda harus punya nilai apresiasi terhadap tulisan-tulisan resensi yang ada di media massa. Bagaimana mungkin Anda ingin menjadi sesuatu jika sesuatu itu tidak berani Andai hargai?
Membaca sebuah resensi di media massa sebetulnya bukan rubrik yang elok apa lagi menjadi bacaan favorit yang ditunggu-tunggu. Resensi hingga saat ini masih dijadikan sekadar suplemen semata, yang biasanya muncul di media harian tiap Minggu, bahkan tak semua media ada resensinya. Bedebah? Ya, bedebah memang. Itu menjadi bagian wajar mengingat masyarakat kita yang masih jauh dari harapan perihal minat baca. Akan berbeda rasanya jika dibandingkan dengan “resensi” akan gadget terbaru. Jika sekarang ini banyak media yang mengkhususkan pada “resensi” gadget terbaru, maka bandingkanlah dengan berapa media yang khusus melulu bicara tentang buku. Jikapun ada yang nekad membuat majalah perihal perbukuan dan sebangsanya, maka tunggulah keruntuhannya!
Nah, selanjutnya jika Anda memilih jawaban “d” (membaca buku karena pengen aja) duh, ini sejujur-jujurnya jawaban sekaligus seaneh-anehnya jawaban. Tipe semacam ini adalah tipe pembaca yang tak bisa setia pada bacaannya karena memilih sesuatu yang tak ada fokus argumentasinya. Tentu saja separah apapun jawaban, tak ada yang akan menyalahkan Anda. Namun, jika Anda ingin menjadi seorang penulis resensi, maka hal ini bukan modal yang baik.
Menjadi seorang peresensi buku setidaknya harus memiliki modal yang jelas, yaitu keingintahuan. Bukankah Anda membaca apapun karena keingintahuan?   Bagaimana mungkin Anda akan menganalisis sesuatu tanpa modal ini? Selain modal keingintahuan, modal kedua adalah cara berpikir logis dan sistematis, sedikit keberanian untuk mengkritik dan tentu saja, faktor yang paling penting adalah berani untuk mengemukakan hasil bacaan dengan objektif. 
Inti dari resensi adalah meninjau sebuah buku. Lebih jau Keraf menjelaskan bahwa resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku” (2001: 274). Jika ditilik dari muasal kata, resensi adalah melakukan tinjauan terhadap buku secara wajar dan logis sehingga menjadi penjembatan antara (calon) pembaca dan buku yang dibicarakan di dalam tulisan tersebut.
Dengan demikian hal yang harus dilakukan oleh kita sebagai peresensi adalah
  1. Melakukan orientasi terhadap buku yang akan kita resensi. Bacalah buku itu secara seksama dan serius. Perlakukan buku tersebut ketika pertama kali Anda tertarik untuk mencoba pakaian di mall. Telitilah secara mendetail.
  2. Mulailah menandai hal-hal yang dianggap penting dan menjadi kelebihan dari buku tersebut atau menandai justru karena ada kelalaian baik dari cara berpikir penulisnya maupun kelalaian secara teknis dari editor.
  3. Setelah selesai membaca, jika dimungkinkan, Anda boleh mulai berpikir untuk membandingkan dengan buku sejenis yang pernah Anda baca. Dengan demikian, Anda jadi bisa tahu kelebihan beserta kekurangan dari buku tersebut.
  4. Penting juga untuk mulai menulis sinposis secara umum dari buku yang mulai Anda timbang-timbang itu.
Jika Anda sudah betul-betul menguasai isi dari buku tersebut, kerjaan selanjutnya adalah mulai masuk dalam wilayah sistematika menulis resensi seperti yang dikemukakan Samad (1997: 7-8) yaitu: judul resensi, data buku (judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, tebal buku, dan harga buku),  pembukaan, tubuh resensi, dan penutup.
Ketika Anda menulis sebuah resensi, jangan terganggu oleh stigma standar yang muncul di masyarakat bahwa meresensi sebuah buku sama dengan mempromosikan. Anda bukanlah penerbit atau pengarang yang punya beban semacam itu. Memang, ada banyak tulisan resensi di media massa yang lebih cenderung mengagung-agungkan buku yang diresensi. Hal ini tentu tidak benar, seperti juga jika Anda menghardik habis-habisan buku yang Anda resensi. Sebagai peresensi, Anda diharapkan berada pada posisi moderat, yang memunculkan hasil keterbacaan Anda secara objektif dan wajar. Selain itu, sebagai seorang peresensi, yang mungkin bisa dipertimbangkan adalah mengenai pertanyaan para pembaca ketika berjumpa dengan buku baru. Anda harus belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan umum yang sesuai dengan tujuan dari resensi itu sendiri seperti adakah kebaruan di dalam buku ini? Apakah buku ini layak mendapat sambutan hangat dari pembacanya? Mengapa sang pengarang menulis buku ini dan bagaimanakah kontribusi buku ini dengan buku sejenis yang sudah lebih dulu beredar? dan seterusnya.
Menjadi seorang peresensi sebuah buku adalah menjadi jembatan, maka jadilah jembatan yang baik, yang mampu membantu orang lain melewati kepenasaran-pengertian terhadap buku yang hendak dibacanya.

Tanah Air, 2010




[1] Dipresentasikan dalam acara Nyenyore Rintisan Balai Belajar Bersama di Taman Budaya Rumah Dunia, 4 September 2010.
[2] Penasehat Rumah Dunia dan Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Untirta. Sekarang sedang mengambil program Doktoral di Jurusan Sastra Kontemporer, Fakultas Sastra Unpad.