Senin, 24 Januari 2011

MEMBACA KUMCER GADIS BUKAN PERAWAN KARYA JENNY ERVINA


DARI REALITAS MENUJU FIKSI
Oleh Firman Venayaksa

Pada akhirnya, esensi hidup kita sebagai manusia adalah “berkehendak” dan “memilih”. Sebagai makhluk yang diberi akal, seyogyanya manusia tentu ingin memilih kehendak yang ideal; ingin lebih baik dari sekarang, ingin menggapai cita-cita setinggi langit, dan seterusnya. Dinamika kehidupan sosialpun tak bisa lekang dari hiruk pikuk libido emosional ini. Sebagai manusia yang normal, kita tentu saja selalu ingin merasa lebih dari orang lain di sekeliling kita. Nampaknya begitulah potret manusia selama berabad-abad lamanya dan tidak akan pernah tergantikan.
Salahkah? Tentu tidak. Jika ditimang-timang, sudah bisa dipastikan bahwa berkehendak dan memilih seperti sepasang gambar dari sisi uang logam. Permasalahannya, kadang kehendak menjadi berwujud beda ketika muncul dalam realitas, karena kehendak biasanya lebih sering menggenang dalam angan-angan. Perlu tenaga yang meronta untuk menggapai kehendak itu mewujud, sehingga hanya orang-orang pilihanlah yang bisa membulatkan kehendak
Selanjutnya, jika kehendak itu telah tumpul dan tak bisa tampil utuh dalam realitas, kita sebagai orang yang harus terus melanjutkan hidup, sudi tak sudi, harus belajar memilih dari apa yang tersaji di hadapan kita, sekalipun bertolak belakang dengan kehendak ideal itu. Dunia realitas itu kadang jahat sekaligus menggemaskan sehingga pilihan-pilihan yang didapatpun harus juga diperjuangkan. Namun pada sisi tertentu, ada dunia lain yang bisa mewujudkan kehendak ideal itu menjadi bulat. Kita menyebutnya sebagai fiksi. Pada posisi ini, seorang penulis bisa sesuka hati menciptakan banyak hal. Penulis bisa dengan gampang mewujudkan dirinya menjadi Cinderella, bisa menghancurkan musuhnya dengan sekali tiup, bisa melaksanakan cita-citanya dengan hebat dan meyakinkan. Disinilah titik kompromi genangan ideal dan realitas. Dengan menulis karya fiksi, sisi posotif manusia bisa tetap hidup kendati hanya dalam bentuk khayali; “berkehendak” menjadi , “pilihan-pilihan” bisa tercipta dengan indah.
Pada dasarnya, setiap karya sastra memang tak bisa lepas dari realitas, seperti juga kita tak bisa menafikkan bahwa dalam membuat realitas, pada dasarnya berawal dari mimpi. Jika Soekarno dan orang-orang yang se-zaman dengannya tak memiliki mimpi untuk berdaulat dan bernegara, maka mustahil kita bisa menjadi manusia-manusia merdeka di tanah kelahiran sendiri. Jika para ilmuwan tak mengepakan sayap imajinya, saya kira kita tak pernah mengenal produk-produk ilmuwan hingga kini. Dengan demikian, seyogyanya kita jangan lagi menihilkan kekuatan imaji.
Apa yang saya kemukakan tersebut tentu bukan hanya basa-basi. Hal ini berkaitan dengan cerpen-cerpen yang diciptakan oleh Jenny Ervina. Di dalam karya-karyanya, Jenny berusaha untuk bermain-main dengan realitas dihadapannya. Ia lincah sekali bertutur tentang keadaan sekelilingnya, berusaha membangun wilayah estetis yang etis dari hasil pengalaman dan pengamatannya di dalam dunia realitas. Sosok Jenny, dengan pelbagai pertimbangan, layak diapresiasi dengan baik. Pembangunan karakter tokoh di dalam cerpen-cerpennya pun penting untuk dianalisis. Secara umum, Jenny bisa menjadi tokoh pembantu, bisa juga menjadi seorang majikan. Kondisi ini tentu tak hanya bermodal imajinasi belaka. Dalam konteks ini, saya kira, sang penulis telah berhasil meruncingkan kilatan-kilatan  anasir antara realitas dengan fiksi.
Awalnya, saya tahu Jenny dari Gol A Gong. “Ada buruh migran asal Petir-Serang yang menulis cerpen.” Berita semacam itu, bagi para politisi dan sejenisnya mungkin bukan warta yang menggembirakan. Tapi bagi saya dan teman-teman di komunitas, apa yang diwartakan tersebut sangat membuat saya bergairah. Apa lagi ketika mengetahui pekerjaannya di Taiwan yang hanya sekadar ‘pembantu’.
Image pembantu rumah tangga yang hadir dalam kepala kita tentu bukanlah pekerjaan yang keren. Pembantu diidentikan sebagai orang yang tersubordinasi dari kehidupan. Ia hanyalah “kacung” yang dilihat sebelah mata, kampungan, dekil dan seterusnya. Disinilah kita bisa melihat bagaimana penghakiman dari ranah sosial yang sangat kontraproduktf. Padahal salah satu penyumbang devisa negara justru dari para TKW.
Saya jadi membayangkan bagaimana Jenny berusaha meluangkan waktu untuk menulis dari rutinitas pekerjaannya yang sudah pasti melelahkan. saya juga mengimajinasikan—dari hasil bacaan terhadap cerpen-cerpennya--bagaiamana posisi hidupnya yang “asing” di tengah suasana kebatinannya. Membaca cerpen-cerpen Jenny kita seolah-olah dibawa pada ranah yang realis sekaligus fiktif secara bersamaan. Padahal, dua wilayah itu, tentu memiliki ciri khas masing-masing.
Pada cerpen “Bukan TKW biasa” saya betul-betul merasakan sebuah drama perjalanan yang sangat realis. Pada cerpen ini dikisahkan bagaimana tokoh Rini yang sudah membulatkan tekad menjadi seorang TKW. Sebelum benar-benar ke Taiwan, negara tempatnya bekerja, tokoh Rini menjelaskan bahwa ada banyak hal mengapa mereka menjadi seorang TKW.
“Semuanya rela meninggalkan rumah, anak, suami, bahkan keluarga yang sangat mereka cintai. Ada yang pergi karena patah hati, yang bosan dengan kemelaratan, bahkan yang kabur dan hanya menjadikan penampungan sebagai tempat persembunyian. Sementara aku, punya visi dan misi tersendiri kenapa mau sejauh ini malakukannya. Demi mimpi, demi sebuah cita-cita. Demi hikmah yang akan kudapat setelahnya. ”
Ternyata, alasan para TKW tersebut begitu banyak dan bukan saja melulu persoalan materi. Disinilah fungsi estetis sebuah karya sastra. “Kabar” yang dimunculkan disini seperti ingin menggambarkan persoalan humanis seorang TKW. Tokoh Rini menjadi perwakilan bagi para TKW lain bahwa menjadi seorang pekerja di luar negeri adalah upaya untuk mewujudkan mimpi. Sekali lagi, mimpi ternyata menjadi ikhtiar berkepanjangan dari perwujudan realitas.
Jika cerpen “Bukan TKW biasa” memakai sudut pandang orang Indonesia, pada cerpen “Persembahan untuk Ina” justru sebaliknya. Saya sangat tertarik membaca cerpen ini. Jenny dengan sangat rapi memakai sudut pandang sang majikan berusia 87 tahun menurut tanggalan China. Dari sudut pandang sang majikan, kita bisa merasakan bagaimana beratnya pekerjaan seorang pembantu (tokoh Ina), apa lagi untuk merawat seorang kakek renta yang tinggal menunggu kematian.
Deskripsi yang dimunculkan dalam cerpen ini bisa mengajak kita mengindera dengan cermat. Mulai dari pagi hingga malam, tokoh Ina disibukkan dengan majikannya. Memapah dari dan menuju pembaringan, memandikan, menyiapkan obat, menyiapkan sarapan, membersihkan kotoran, membereskan rumah bahkan mengganti pampers yang sudah basah. Sebagai seorang pembantu, tokoh Ina adalah tokoh yang sangat cekatan. Majikan yang dijadikan sebagai sudut pandang, seakan-akan menuturkan kepada pembaca bagaimana baiknya tokoh Ina, kendati dalam beberapa hal, sang majikanpun tahu jika pada waktu tertentu ia membuat Ina kesal dengan sifatnya yang manula. Selain itu, Ina juga seorang yang teguh dalam memegang akidahnya. Ina masih menyempatkan untuk melakukan ritinitas religius yang sebetulnya bertolak belakang dengan sang majikan yang tak percaya akan adanya Tuhan.
Cerpen lain yang tak kalah menarik dan masih membahas mengenai sang burug migran adalah “Upik Abu Ketemu Pangeran.” Cerpen selanjutnya ini lebih menitikberatkan pada tema Cinderela syndrom dimana seorang pembantu jatuh cinta kepada seorang dokter yang menangani majikan rentanya itu. Pada akhir cerita, sang dokter itu melamar sang pembantu menjadi istrinya. Sungguh sebuah angan-angan ideal bagi seorang pembantu. Pada cerpen ini, Jenny berusaha untuk “memamerkan” sisi kepenulisannya. Terbukti, mimpinya menikahi seorang kaya raya terkabul sudah.
Saya tidak akan membahas mengenai cerita cerpen ini yang menurut saya terlalu mengharu biru dan menjual mimpi. Konteks lain yang menarik adalah bagaimana antara cerpen  “Persembahan untuk Ina” dan “Upik Abu Ketemu Pangeran” memiliki kesamaan dari penggambaran tokohnya. Sifat sang pembantu dan sang majikan terlihat begitu identik dalam kedua cerpen ini. Hal ini semakin mempertegas bahwa realitas dan imaji di dalam benak penulisnya memang saling bertautan. Hampir bisa dipastikan bahwa Jenny benar-benar bekerja dengan lelaki tua yang disebut Ama itu.
Hal ini kian mempertegas bahwa karya yang ditulis oleh sastrawan tidak bisa lepas dari keadaan sosial yang menelingkupinya. Sastrawan bisa saja berkelit dalam dunia realitas, tapi pembaca bisa menemukan “ideologi terselubung” dari tanda-tanda yang ditimbulkan dalam karyanya.
Sebagai sebuah bukti bahwa pembantu adalah manusia biasa yang memiliki emosi tertentu, kita bisa mengamati bagaimana diksi-diksi ironi kepada sang majikan pun muncul seperti “jam wekker manual” yang diperuntukan bagi sang majikan perempuan yang sangat bawel dan sering marah-marah atau superintendent yang melihat sang majikan sebagai orang superior yang selalu mengawasi dan tak terbantahkan. Diksi semacam ini jelas memberikan sebuah pemahaman bahwa pada waktu tertentu, seorang pekerja kecil sekalipun bisa saja protes dan marah dengan cara mereka sendiri. Sekali lagi, kita bisa membayangkan bagaiamana seorang pembantu, selain harus cekatan dan “tak boleh salah” juga harus memiliki kesabaran yang maha.
Gambaran TKW yang muram muncul pula di dalam cerpen “Gadis Bukan Perawan”. Alur campuran yang dimainkan dengan sangat baik oleh Jenny membuat cerpen ini tersaji dengan istimewa. Cerita dimulai ketika tokoh gadis menikah dengan Bayu. Lazimnya sepasang manusia yang sudah menikah, tentu malam pertama adalah malam yang sangat menggairahkan dan ditunggu-tunggu. Namun Jenny dengan begitu pintar mengajak pembaca masuk pada alur flashback tiga tahun sebelum pernikahan. Tokoh Gadis ternyata adalah bekas TKW yang sangat perih hidupnya. Di Taiwan, ia rela menanggalkan keperawanannya demi membahagiakan keluarganya di kampung.
Selanjutnya Jenny mengajak kembali pembaca menuju malam berikutnya di hari pernikahan. Tokoh Bayu yang sepertinya baik dan menerima gadis apa adanya dibuat diam akan kejujuran Gadis dengan mengatakan bahwa ia tak lagi perawan. Ending pada cerpen ini dibuat menggantung. Pembaca pun dibuat bertanya-tanya mengenai kelanjutan cerita ini. Sebagai sebuah cerpen populer, Jenny telah berhasil menjerat pembacanya tanpa terjebak pada wilayah-wilayah klise.
Selain cerpen-cerpen dengan tema buruh migran, sebetulnya ada beberapa tema lain, terutama mengenai silang sengkarut percintaan. Sayangnya, masih ada cerpen-cerpen yang sepertinya belum terlampau kuat. Beberapa cerita terkesan mengambang dan masih pincang. Setelah membaca keseluruhan dari antologi cerpen ini, saya kira Jenny harusnya berani untuk mengeksplorasi lebih dalam lagi tentang kehidupan buruh migran. Tema-tema buruh migran yang muncul di dalam cerpen-cerpennya jauh lebih kuat dibandingkan dengan cerpen “Korban Mode” “My Broken V’day” apalagi cerpen “Jerawat” yang kurang tereksplorasi dengan baik.
Jika saja Jenny konsisten dengan tema-tema buruh migran saya punya keyakinan bahwa karya-karyanya akan jauh lebih menggoda. Secara psikologis, tema-tema tersebut lebih memunculkan kegairahan tersendiri. Kendati demikian, sebagai sebuah awalan, Jenny telah berhasil membawa dirinya untuk menciptakan pilihan-pilihan dari kehendak yang ingin dilampauinya.   

Tanah Air, 2010