Senin, 24 Januari 2011

NOVEL IMPERIA DAN KECENTILAN LITERATUR

Oleh Firman Venayaksa*)

Dalam memaknai sebuah teks, kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan pisau analisis mana yang bisa kita pakai dari sekian jumlah pendekatan yang begitu melimpah. Ketika kita sampai pada pilihan tertentu maka seyogyanya kita boleh setia dengan satu pilihan, namun bisa juga mencampuradukan beberapa pilihan tersebut, tergantung kepentingan dari tujuan sang kritikus dalam membedah keterbacaannya. Kita bisa saja mengaitkan antara teks dengan pengarangnya, bisa pula –benar-benar—hanya memfokuskan pada teks dan “melupakan” sang pengarang.
Roland Barthes adalah seorang pemikir yang memiliki andil cukup besar dalam perkembangan kajian semiotika, bahkan Barthes berani mempertanyakan kembali posisi seorang penulis dengan essainya yang cukup terkenal: “The Death of the Author”. Menurut Barthes, seorang pengarang bukan sekedar manusia dengan kemampuan tertentu, tetapi merupakan subjek yang terkonstruksi secara sosial dan historis. Mengakui pendapat Marx bahwa sejarahlah yang membentuk manusia, dan bukan seperti kata Hegel, manusia yang menciptakan sejarah. Selanjutnya Barthes mengungkapkan bahwa seorang pengarang tidak lebih dulu eksis dari atau di luar bahasa, oleh karena itu seorang pengarang tidak dapat melakukan klaim yang mutlak terhadap teksnya. Para pembaca punya haknya sendiri untuk memberikan penafsiran dan mereguk kesenangan dari teks-teks itu.
Novel Imperia karya Akmal Nasery Basral (Akoer, Juni 2005) adalah sebuah novel pop yang sarat dengan literatur. Nama Imperia sendiri diambil dari sebuah nama patung di sebuah kota kecil bernama Konstanz-Jerman.

Dengan kedua tangannya yang terangkat menghadap langit, dan dua figur berpengaruh di abad pertengahan yang duduk pasrah di kedua telapak tangannya itu membuat Imperia terlihat sebagai maharani yang sedang menikmati kekuasaannya terhadap tanah jajahan. Apalagi kedua tokoh di tangannya itu adalah Raja Sigismund dan Paus Martinus V. Yang satu mewakili negara, yang kedua mewakili lembaga agama (hal. 390).

Dari keterangan di atas, bisa kita tarik sebuah tesis awal bahwa novel ini memakai simbol sebagai sarana untuk menyembunyikan tabir teks yang ada, dan ketika berbicara simbol maka ada makna-makna tersembunyi yang bisa kita kuak keberadaannya karena kode simbolik bersifat tidak stabil dan dapat dimasuki melalui beragam sudut pendekatan.
Barthes menggunakan konsep connotation-nya Hjemslev untuk membongkar makna-makna yang tersembunyi. Konsep ini menetapkan dua cara pemunculan makna yang bersifat promotif, yaitu denotatif dan konotatif. Pada tingkat denotatif, tanda-tanda itu mencuat terutama sebagai makna primer yang “alamiah”. Namun pada tingkat konotatif, di tahap skunder, muncullah makna yang ideologis (Dahana, 2001: 23). Selanjutnya Barthes mengungkapkan bahwa petanda ini memiliki komunikasi yang sangat dekat dengan budaya, pengetahuan, dan sejarah dan melaluinya, dunia lingkungan menyerbu sistem itu (Kurniawan, 2001: 68).
Pada tingkat denotatif kita melihat sebuah patung, dan dua orang lelaki di tangannya. Tingkat denotatif selesai sampai di sini. Sementara pada tingkat konotatif kita bisa menguak lebih jauh lagi yang dihubungkan dengan tanda-tanda yang ada. Patung perempuan yang kita ketahui dari novel ini adalah seorang pelacur bernama Imperia. Biasanya patung yang disimpan di sebuah kota adalah untuk mengenang seseorang terhadap sejarah yang dibuatnya seperti patung Sudirman di Jakarta misalnya. Yang menarik dari patung Imperia adalah ternyata dia seorang pelacur, bukan seperti R.A Kartini atau perempuan “baik” lainnya yang cukup memberikan kontribusi dalam sejarah. Atau jangan-jangan pelacurpun menjadi penting untuk dikenang dalam rangka mengeksiskan sebuah pemikiran bahwa seorang perempuan “tidak baik” pun bisa membuat sejarah atau menjadi reflektor terhadap yang dilakukannya pada masa silam. Patung Imperia menimbulkan sisi yang menarik ketika kedua tokoh di tangannya itu adalah Raja Sigismund dan Paus Martinus V. Yang satu mewakili negara, yang kedua mewakili lembaga agama. Tangan dalam makna konotatif berarti kuasa atau menguasai. Ini menyiratkan bahwa Imperia bisa memegang lembaga negara  dan lembaga agama.
Lalu mengapa judul novel ini Imperia? Adakah Imperia sebagai simbol keterwakilan dari novel ini?
Melanie Capricia (MC) adalah tokoh yang sangat penting dalam novel ini, bahkan kita bisa bercuriga bahwa Imperia diwakilkan dalam tokoh MC. Dia seorang diva Indonesia yang meroket namanya, karena kontribusi dari media massa yang “mem-blow up” artis terkenal. Sebagaimana halnya para artis yang telah ada, tokoh ini pun memiliki karakter yang standar; kecerdasan yang standar, gaya hidup yang standar, dan persoalan-persoalan hidup yang standar pula. Tidak ada kebaruan yang wah baik ditilik dari sisi sosiologi maupun psikologi. Flat.
Berawal dari lingkungan yang terang benderang alias glamor, maka dalam dunia pop, tema perselingkuhan adalah bagian yang menarik untuk dituliskan. MC berselingkuh dengan Jendral Pur, seorang lelaki setengah baya yang memiliki pengaruh dan kekuatan yang sangat besar. Dari sinilah, novel ini menyuratkan bahwa MC menggenggam dua kekuatan,

.....Barangkali penyanyi itu tak suka disebut Diva, karena merasa dirinya lebih mirip dengan Imperia. Ia sudah menguasai media massa di tangan kanannya, dan seorang tokoh militer berpengaruh di tangan kirinya.  Tapi ternyata, MC pun tak lebih dari sekadar pion yang berada di dalam genggaman seorang Imperia lain yang lebih cerdik, lebih berkuasa – Adel (hal. 414).

Ketika kita menguak keberadaan Imperia sebagai sebuah simbol yang menelingkupi cerita ini, kita bisa mengamati dengan jelas bahwa Imperia yang disangkutpautkan sebagai perwakilan dalam novel ini menjadi tidak ansih adanya.
Jika betul Imperia diwakilkan dalam tokoh MC (dalam hal ini MC sebagai penyanyi sudah disejajarkan dengan Imperia sebagai pelacur?), maka hal tersebut menjadi logika yang tidak sesuai, karena Imperia memegang tokoh agama dan tokoh negara, sementara MC yang dituliskan pada halaman 414, memegang media massa di tangan kanannya dan seorang tokoh militer di tangan kirinya. Persamaan antara MC dan Imperia --jika ingin mengklaim--, bolehlah ada pertautan yaitu sama-sama memegang kekuasaan (Raja Sigismund dan Jendral Pur), tetapi apakah media massa dan Paus Martinus V bisa disejajarkan? Jelas tidak, karena tidak ada korelasi yang signifikan di antara keduanya. Dengan demikian, melalui persepsi pertama, mungkin kita bisa memberikan predikat baru yaitu MC adalah “Setengah Imperia”.
Namun jika kita membaca sampai tuntas novel ini, malah kita tidak akan melihat Imperia diwakilkan dalam tokoh MC, karena MC sama sekali tidak “menggenggam” Jendral Pur, justru sebaliknya, MC telah “dipakai” habis-habisan oleh Jendral Pur untuk menunaikan hasrat seksualnya. Melalui persepsi ke dua ini, tamatlah kebercurigaan kita bahwa MC adalah keterwakilan dari Imperia. Lalu mungkinkah ada tokoh perempuan lain yang bisa menyerupai Imperia? Masih pada halaman 414, Adel disebutkan pula sebagai Imperia, namun jika masih merujuk pada Imperia sebagai tokoh, maka Adel-pun tak bisa mewakili Imperia. Setelah membuka tabir-tabir yang ada, dugaan yang bisa kita maknai adalah bahwa Imperia dalam novel ini bukanlah sebuah sosok atau penjelmaan, tetapi sebagai sebuah karakter yang pada akhirnya membentuk sebuah predikat yaitu “menguasai”.
Jika ingin mengkalisifikasikan, novel ini bisa disebut sebagai novel detektif, karena salah satu kekhasan dari novel detektif adalah hadirnya sebuah tragedi kematian yang dilanjutkan dengan penemuan-penemuan untuk menyelesaikan masalah, siapa detektifnya, siapa yang melakukan pembunuhan dan apa motifnya sehingga terjadi kasus pembunuhan tersebut.
Pada “prolog”, kita sudah diteror dengan kematian Rangga Tohjaya yang mengenaskan. Pembaca dibuat tersentak dan ingin mengetahui keberlanjutan dari cerita ini. Inilah salah satu motif dari cerita detektif yang sering kita baca pada novel-novel detektif yang telah ada (baca “The Davinci Code” karya Dan Brown yang sama-sama memulai “prolog” sebelum masuk pada bab 1). Dalam cerita detektif,  pembunuhan tidak mempunyai aspek yang menyedihkan sebagaimana yang sering kali kita lihat dalam tragedi atau dalam roman biasa; pembunuhan, adanya mayat, malahan menggembirakan pembaca, sebab harapannya sudah terpenuhi (Teeuw, 2003: 84).
 Selanjutnya kita masuk pada tokoh utama (sang detektif) yaitu Wikan, seorang wartawan yang baru saja diterima bekerja di majalah Dimensi dan langsung dihadapkan pada pencarian berita pembunuhan. Tokoh Wikan pada novel ini memiliki kecerdasan di atas rata-rata, jebolan FISIP UI dan memiliki kemampuan di atas manusia biasa yang disebut Extra Sensory Perception seperti telepati, psikokinesis, prekognisi dan clairvoyance (hal. 151). Sayangnya kemampuan seperti ini hanya sebuah tempelan belaka. Kemampuannya tidak dipergunakan untuk menguak keberadaan MC yang dicari para wartawan ketika di bandara, mendalami pikiran Adel yang ternyata melakukan pengkhianatan kepada MC atau ketika mencari MC di Jerman. Kebetulan demi kebetulan yang mempertemukan mereka. Sebagai tokoh yang menjadi detektif, seharusnya tokoh ini bisa menemukan pelbagai kunci peristiwa yang terus “meneror” pembaca.
Biasanya, cerita-cerita detektif memiliki alur cepat dan dinamis, tapi pada novel Imperia, kesan tersebut nampak hilang karena terlalu banyak referensi dan informasi-informasi yang tidak terlalu berguna dalam mendukung penceritaan dan malah terkesan menjauhkan pada rel cerita. Pada novel ini, kecentilan literatur hadir pada dialog-dialog: Ketika Wikan mewawancarai MC, tiba-tiba “bergumam” tentang literatur-literatur dan mengabsen nama-nama orang hebat; Ketika MC berbincang dengan Kresna, wakil Sekjen Partai politik, yang mengajaknya menjadi pendukung parpol tersebut, novel ini bergumam mulai dari pemilu, pemberdayaan ekonomi rakyat, sampai Sea Jazz Festival di Belanda atau Montreux Jazz Festival di Swiss; Ketika MC bertemu dengan Jendral Pur basa-basi tentang Tuhan yang dilanjutkan referensi film-film; Ketika MC dan Marendra kencan, pada akhirnya berbuntut pada perkuliahan 4 SKS tentang ilmu astrologi; ketika Wikan bertemu Stefan dan membincangkan Neo Nazi.
Selain pada dialog, kecentilan literatur ini hadir pula pada objek yang bersangkut-paut dengan tokoh misalnya ketika Wikan menemukan sebuah e-mail dari Zimbabwe (bagi para neter, hal ini sudah tidak asing) atau ketika Hastomo mendapatkan email dari Mark Pesce (tulisan ini diambil dari buku The Soul of Cyberspace). Selain itu sang pencerita sebagai narator ikut-ikutan menceramahi pembaca seperti membincangkan sastrawan-sastrawan dan karya-karya dunia ketika Wikan membeli buku bekas, mengenalkan Jerman secara terperinci ketika Wikan memburu MC, mengenalkan ibu Marendra sang seniman-rupa yang tak ada sangkut pautnya secuilpun dengan fokus cerita detektif ini, atau ketika mengenalkan tokoh Stefan yang hanya mampir alias numpang beken dalam cerita ini tetapi diperkenalkan kepada pembaca dengan sangat komplit, bahkan membincangkan mengenai pengalaman ketika Stefan sekolah di kawasan La Latina. Pada perkenalan Stefan inilah, lagi-lagi kecentilan literatur dimulai: sebuah diagram “Stabat Mater Rossini” tergambar dengan jelas. Hal yang cukup menarik perhatian adalah pada bab 4 mengenai persetubuhan antara Jendral Pur dengan MC. Sekitar 7 halaman untuk mendeskripsikan mengenai persetubuhan. Jelas adegan ini menjadi bertele-tele dan membuat novel detektif ini lebih terkesan diam di tempat.
Kembali pada teori tentang cerita detektif, menurut Teeuw (2003: 84) selain lahirnya pembunuhan dan detektif, konvensi lainnya adalah keraguan yang disengaja tentang watak tokoh: penjahat atau manusia yang tak bersalah?; tentang urutan dan detail –detail waktu, peristiwa dan hal-hal lain (pentingnya alibi!). Selanjutnya Teeuw menegaskan bahwa berbagai-bagai detail yang dalam roman biasa tidak penting mungkin menjadi maha penting dalam roman detektif, sehingga harapan kita sebagai pembaca selalu tegang, kita ragu-ragu apakah hal kecil tertentu penting atau tidak dalam perkembangan plotnya. Pembaca tahu, malahan berharap bahwa dia tetap tertipu oleh teks yang dibacanya; kesimpulannya pasti salah, tetapi justru itulah yang menggembirakan.
Dalam novel Imperia, ketegangan-ketegangan sebetulnya hadir, namun kehadiran tersebut kalah dengan hiruk pikuk informasi yang terlalu banyak, plot yang terlalu melebar dan tokoh-tokoh yang tidak penting kehadirannya sehingga pembaca menjadi tidak konsentrasi pada plot yang sudah terbentuk dengan sangat baik pada bab-bab awal. Selain itu ada tokoh-tokoh yang tidak tuntas penggarapannya seperti Arlen yang sempat bersitegang dengan Wikan, atau tokoh Marendra, istri MC yang seharusnya mampu berbuat sesuatu ternyata tidak melakukan apa-apa. Selain itu tokoh Dosi Lamire yang diketahui ada kerjasama dengan Rangga Tohjaya tidak dimanfaatkan dengan baik untuk lebih mempertegang keadaan. Pada novel ini, disebutkan bahwa Rangga Tohjaya masih memiliki kekerabatan dengan Jendral Pur. Sayangnya Wikan sebagai seorang tokoh detektif yang mencari informasi sama sekali tidak mendatangi atau mengaitkan peristiwa tersebut dengan jendral Pur. Intinya tokoh detektif dalam novel ini tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya. Tokoh Moorhan yang pada bab akhir diketahui sebagai anak buah Jendral Pur pun lepas dari lingkaran cerita awal yang akan lebih menambah ramai suasana jika dia ambil bagian.
Dalam novel detektif, biasanya sang pembunuh ikut dalam narasi besar, namun dalam Imperia sama sekali tidak digubris siapa pembunuhnya. Hanya Adel yang pada akhirnya mengaku di hadapan Wikan dan MC sebagai dalang dari pembunuhan tersebut dengan menyewa pembunuh bayaran milik Jendral Pur.
Novel ini diakhiri dengan gaya open ending, di mana pembaca disuruh melanjutkan keterbacaannya. Namun jika kita membaca secara menyeluruh, banyak-serpihan-serpihan yang tidak tuntas seperti yang disebutkan di atas sehingga pembaca begitu dibebani banyak potongan-potongan cerita yang harus diselesaikan sendiri. Sangat meletihkan.
Sebetulnya novel Imperia karya Akmal Nasery Basral memiliki potensi yang cukup besar untuk meneror pembaca jika saja bersetia dengan pengaluran dan sedikit lebih bisa menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengumbar literatur yang tidak bersinggungan secara langsung dengan cerita yang telah ada. Informasi-informasi yang terkandung dalam novel memang mengagumkan, sekadar untuk menyatakan keseriusan penulis dalam mengumpulkan riset yang ditampung dalam novel Imperia, tapi tiba-tiba karya ini kian hambar ketika presentasi informasi melebihi ruang penceritaan.

Tanah Air, 2005

*) Koordinator Program Rumah Dunia-Banten

untuk redaksi:
Alamat: Jl. Raya Pandeglang km 9,5 Desa Selaraja RT 07/III Kec. Warunggunung Kab. Lebak 42352 Banten
No. Rekening: a.n. Firman Hadiansyah BNI UI Depok 0006067163