Senin, 24 Januari 2011

POPULAR CULTURE: AMERIKANISASI? OH..YES, OH..NO


POPULAR CULTURE: AMERIKANISASI? OH..YES, OH..NO

Firman Venayaksa*)

Manusia sebagai makhluk yang dianugerahi pemikiran memungkinkan terjadinya berbagai bentuk daya cipta untuk membuat segala hal. Anugerah yang maha ini membuat manusia mengimani bahwa banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan, dan kemungkinan-kemungkinan semacam ini menjadi sebuah proses panjang dalam keberlangsungan polarisasi hidup manusia.

Manusia  sebagai "Tuhan kecil" sudah sewajarnya mempunyai watak mencipta sebagaimana halnya "Tuhan besar" yang telah menciptakan diri kita. Watak mencipta ini adalah sunatullah, sebagai pengagungan kepada dzat paling agung, perwujudan imanensi yang sakral. Pada proses mencipta ini, manusia membentuk pula sebuah penciptaan baru yang dinamakan 'pemilahan mencipta,' yang terdapat dua kubu yaitu popular culture (budaya populer) dan high culture (budaya "tinggi") yang digambarkan memiliki jurang yang cukup nganga. Benarkah demikian?

Untuk memaparkan mengenai dua aliran kebudayaan ini, selayaknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai esensi yang terdapat di antara keduanya. Popular culture diidentifikasikan melalui gagasan budaya massa, dengan demikian perkembangan popular culture sangat berkaitan dengan budaya massa. Ikhwal penciptaan budaya ini lebih menitikberatkan pada keberterimaan manusia terhadap penciptaan itu sendiri. Gagasan-gagasan popular culture memang sengaja diciptakan untuk dinikmati oleh strata manapun. Akibat dari gagasan ini maka timbulah cita rasa yang masal. Setiap manusia mengkonsumsi hal yang relatif sama. Sedangkan high culture diidentikkan sebagai hasil cipta kreasi manusia yang mempunyai estetika tinggi. Selain itu konsumen yang mengapresiasinya adalah kalangan tertentu. Tentu saja ilustrasi pendefinisian di atas masih longgar dan masih banyak yang harus digugat. Pemikiran tersebut hanya merupakan jembatan awal untuk memposisikan antara popular culture dan high culture.

Amerikanisasi
Dalam dunia kekinian—di mana banyak sekali fasilitas yang mempermudah kehidupan manusia—timbullah  bermacam logika instan sebagai respon dari stimulan transformasi radikal yang dikaitkan dengan bangkitnya jenis-jenis produksi industri mekanis dan berskala besar. Segala sesuatu menjadi serba mudah, serba cepat. Amerika sebagai sebuah negara adikuasa, mempunyai berbagai otoritas kuasa untuk membuat sebuah hegemoni kebudayaan. Negara ini memang menjadi sentral segalanya, dengan demikian ia mempunyai daya pengaruh yang cukup tinggi. Produk negara ini tidak hanya alat-alat modern seperti piranti mesin-mesin, namun mencakup juga ideologi berpikir, media massa, demokratisasi ala Amerika, musik komersil, film, busana, bahkan makanan dan minuman yang sudah sangat familiar di telinga dan lidah kita yaitu Mc Donalds dan Coca cola.

Dalam ruang lingkup seperti ini akan banyak kecemasan yang terjadi. Hoggart  (Strinati, 2003: 32) mengutuk atas dampak Amerikanisasi ini yang disampaikan pada kaum muda kelas pekerja. "Anak-anak pencinta musik gramofon" (juke-box boys), pada dekade 1950-an dan awal 1960-an dikenal dengan nama milk bar, mendapat perhatian khusus,

Milk bar sekaligus menunjukkan, dalam kekejian perhiasan modern, kemenonjolannya yang gilang gemilang, suatu kehancuran estetis sehancur-hancurnya, sebagai perbandingan dengan penataan ruang tamu di sejumlah rumah menyedihkan di mana para konsumen hadir untuk membicarakan suatu tradisi yang sedemikian selaras dan beradab seperti sebuah rumah di kota abad delapan belas...sebagian besar konsumen adalah anak laki-laki berusia antara lima belas dan dua puluh tahun, dengan syal, dasi bergambar, dan sebuah topi amerika..

Pandangan Hoggart berpengaruh pada apa yang diberikan oleh pencitraan dan konsumerisme Amerika terhadap kaum laki-laki kelas pekerja sudah cukup jelas. Impor budaya Amerika menjauhkan "anak-anak pencinta gramofon" dari autensitas latar belakang kelas pekerja dan ke dalam suatu dunia fantasi kosong kesenang-senangan yang di-Amerikanisasi. Kecemasan tersebut dikatakan pula oleh Booker (Strinati, 2003: 33) sebagai suatu budaya yang kurang ajar dan terstandar, yang berpusat pada semakin besarnya pengaruh televisi dan iklan, musik pop lebih menonjol dibandingkan irama hipnotis musik jazz, dan keunggulan baru itu, sebagai sebuah kekuatan sosial khusus, lahir pada remaja dan anak muda.

Ada banyak lagi kecemasan-kecemasan senada yang diusung oleh para kritikus budaya massa tersebut. Namun ada pula yang tidak terlalu mempersoalkan mengenai Amerikanisasi ini. Orwell (Strinati, 2003: 30) melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang wajar dan biasa-biasa saja,

Kami adalah bangsa pencinta bunga, tapi sekaligus juga bangsa pengumpul perangko, para tukang kayu amatir, penggunting kupon, para pemain busur panah, para penggemar teka-teki silang. Kebudayaan apapun yang paling asli yang bahkan berpusat pada hal-hal komunal, tidaklah bersifat resmi—pub, pertandingan sepak bola, kebun belakang rumah, api unggun dan pesta minum teh.

Pernyataan yang indah ini tentu saja ingin mengatakan kepada kita bahwa tidak usah khawatir terhadap persinggungan kebudayaan yang lambat atau cepat akan terasakan dampaknya. Orwell menitikberatkan pada unsur akulturasi budaya, di mana setiap ruang lingkup budaya mempunyai local genius dan hal tersebut akan terbentuk dengan sendirinya sebagai proses dari kehidupan. Pemikiran seperti ini diperkuat oleh ilmuwan T.H. Huxley yang memandang Amerika sebagai gambaran janji masa depan ilmiah dan rasional.

Amerikanisasi di Indonesia
Indonesia sebagai negara berkembang memiliki kecenderungan untuk mengadopsi bermacam kultur dari luar. Amerika sebagai negara yang kuat tentu saja dijadikan tempat berkiblat. Hal seperti ini bisa dilihat dari kegiatan keseharian, terutama di daerah perkotaan. Food, fashion dan fun sudah tak bisa lagi dibendung:

Food
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dll, banyak sekali bermunculan tempat-tempat makanan siap saji (Mc Donalds, Kentucky Fried Chicken) terutama di mal-mal, di mana konsumennya adalah kalangan menengah ke atas. Tempat-tempat seperti ini awalnya memang hanya untuk "mengganjal" perut kita dari kelaparan, namun lambat laun ternyata hal ihwal awal tersebut kini berubah fungsi menjadi sebuah trend, mempunyai nilai gengsi yang cukup tinggi di kalangan masyarakat. Warteg tidak lagi menjadi tempat yang nyaman, bahkan terkesan kampungan.

Fashion
Jika ada perempuan yang memakai kain kebaya atau laki-laki yang berpakaian batik, maka kita akan langsung menebak bahwa mereka akan kondangan atau urusan resmi lainnya. Apalagi kalau ada yang berani memakai blangkon, kemungkinan kita akan berkata "Wah mau jadi dalang di mana, Mas?" Berbeda lagi jika kita berpakaian levi's dan kaos oblong, cassual atau tank top (untuk perempuan) bisanya pemakainya akan lebih tampil percaya diri, elegan, mempunyai kesan trendy. Pergeseran makna seperti ini memang ciri khas dari popular culture, di mana ada keterasingan bagi budaya lokal dengan hadirnya cita rasa massa. Lagi-lagi remaja menjadi konsumen yang paling mudah terprovokasi. Tidak sedikit remaja yang memakai aksesoris bergaya punk. Sebetulnya aliran punk sendiri adalah sebuah pemberontakan terhadap kemapanan yang sudah menghegemoni, namun ketika diadopsi oleh remaja Indonesia, ideologi punk sebagai pemberontak dan anti kemapanan benar-benar hilang. Yang dipakai sebagai aksesoris hanyalah fashion semata.

Fun
Apapun bentuknya, bentuk kesenangan dalam benak kita secara mayoritas telah berkiblat ke Amerika. Setiap kali terutama di layar kaca, kita disuguhi oleh  bermacam film-film Hollywood, begitu pula dengan acara-acara reality show seperti Indonesian Idol,  yang diadaptasi dari American Idol. Semua orang ingin menjadi  terkenal. SMS menjadi tuhan baru dalam menciptakan takdir mereka selanjutnya. Bentuk kehebatan lainnya, para remaja sudah dilenakan oleh permainan play station sebagai produk paling "menggairahkan" yang bisa membuat pemain game ini  akan betah berjam-jam. Selanjutnya, jika dulu tontonan sulit dicari dan membutuhkan momen tertentu untuk mengapresiasinya (seperti wayang, dll), sekarang tontonan dibuat secara instan dan kita bisa menonton semaunya tanpa meninggalkan kursi.

Dari tiga realitas yang ada tersebut, kita bisa mengatakan bahwa popular culture memang memberikan berbagai kemudahan, namun di lain pihak, kita bisa melihat sudut-sudut lain yang cukup mengkhawatirkan. Perubahan bentuk perilaku generasi muda dalam mengadopsi kebudayaan popular secara signifikan telah menjauhkan kebudayaan asalnya. Bahkan bisa jadi dengan hadirnya Amerikanisasi ini, suatu saat akan timbul sebuah generasi yang kesulitan mengidentifikasi siapa dirinya. Sungguh ironis.


Tanah Air, 2004


*) mahasiswa S-2 UI dan staf pengajar STKIP Setiabudhi Rangkasbitung