Senin, 24 Januari 2011

Reg (Spasi) Pembodohan Publik

Oleh Firman Venayaksa*)

Tema dari tulisan ini awalnya hanya obrolan kecil para dosen sastra Untirta ketika menunggu buka puasa. Lontaran Wan Anwar yang dikenal sebagai sasrawan ini cukup menggelitik. Ia mengatakan bahwa gejala ”nada tunggu” yang sering dipakai oleh pengguna telepon selular sungguh menafikan daya nalar manusia. Orang-orang yang mengaktifkan ”nada tunggu” dengan harga 9000 rupiah/ bulan: yang tidak pernah kita pegang barangnya, dengan lagu yang tidak tuntas, dan dibayar oleh kita untuk didengar orang lain, benar-benar tak masuk diakal. Lalu ia melanjutkan bahwa fasilitas unknown yang biasa dipakai oleh pengguna telepon untuk menghilangkan identitas supaya tidak diketahui oleh penerima telepon lebih gila lagi. ”Kalau ada yang telepon pakai unknown pasti tidak saya angkat. Apa sih maksudnya?” imbuhnya.
Masih tentang persoalan ini, Odien Rosidin, yang juga dosen, memilih untuk sama sekali tidak memiliki HP. Ia beranggapan bahwa ia bisa lebih bebas menikmati kehidupan tanpa gangguan dari benda mati itu. Konsekuensinya adalah semua kawan dan mahasiswanya tak tahu mesti menghubungi ke mana jika ia tak ada di kantor. Sebagai kawan, saya sangat menghormati keputusan Odien. Di antara orang-orang yang menyematkan diri bahwa HP sangat penting, Odien bersikukuh dengan ideologinya. Di dalam tulisan ini saya menyarankan agar ia memiliki HP. Alasannya cukup manusiawi. Pertama, supaya orang-orang mudah untuk berkomunikasi dengannya. Kedua, supaya tidak ada kesan sebagai dosen yang melarat. Atau mungkin ada alasan lain yang masuk akal, bahwa di kampung Petir, tempat ia bermukim, tak ada sinyal seluler?

Industri Budaya
Di era kekinian, arus teknologi informasi menderas seperti sungai bah. Handphone (HP) yang awalnya dibuat sebagai alat komunikasi, tampaknya sudah mulai disfungsi menjadi populist life style, yang lebih mengutamakan gengsi dan trend. Kian hari--terutama di kalangan remaja-- HP telah menjadi sebuah produk gaul dan penting bagi mereka untuk terus mengikuti perkembangan. Maka tak jarang jika banyak orang yang tak cukup satu HP, sering pindah merk dan type demi sebuah prestise atau hanya sekedar memuaskan kebanggaan yang nisbi. Di beberapa hasil temuan, tak jarang kita mendapatkan blue film ngendon di HP, bahkan tak hanya itu, ada juga yang malah menjadi pelakunya seperti yang pernah terjadi pada pasangan pelajar di Rangkasbitung beberapa waktu silam.
Kejadian ini senada seperti yang dikemukakan oleh Harvey, salah seorang pengamat industri budaya, bahwa ”citraan sering mendominasi narasi.” Argumennya adalah bahwa kita semakin sering mengonsumsi citra maupun tanda itu sendiri dan bukan manfaatnya atau nilai-nilai lebih dalam yang mungkin disimbolisasikan. Kita mengonsumsi citra dan tanda karena kesemuanya itu memang citra dan tanda, dan mengabaikan pertanyaan tentang nilai dan kegunaan.
Harus kita akui bahwa kelahiran industri budaya yang salah satu contohnya mengenai fenomena HP ini akan menumbuhkan dan selanjutnya mencengkram konsumen dengan jejaring/ sistem yang dibuat. Pengguna HP mau tak mau harus berlangganan, membeli sejumlah voucher dan terus menerus diupayakan supaya addict. Sejumlah sarana seperti nada tunggu, sms premium, MMS, down load ring tone, adalah cara terbaik supaya pelanggan segera menghabiskan pulsa. Itulah kesejatian industri budaya, di mana konsumen terus diperas dan dibodohi; pembodohan publik yang benar-benar kasat mata.
Menurut Mazhab Frankfrut, industri budaya membentuk selera dan kecenderungan massa, sehingga mencetak kesadaran mereka dengan cara menanamkan keinginan mereka atas kebutuhan-kebutuhan palsu. Oleh karena itu, industri budaya berusaha mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan riil atau sejati, konsep-konsep atau teori-teori alternatif dan radikal, serta cara-cara berpikir dan bertindak oposisional politis. Industri budaya sangat efektif dalam menjalankan hal ini sehingga orang sampai (pura-pura) tak menyadari apa yang telah terjadi.

Reg (spasi) Pembodohan
Salah satu contoh pembodohan/ ketaksadaran publik yang saya maksud adalah ketika ada iklan yang mengajak pengguna HP untuk meregister dengan memanfaatkan keterkenalan seseorang. ”Halo saya Nia Ramadani. Untuk mengetahui keseharian saya, ketik reg (spasi) Nia, kirim ke 9669. Saya akan membalas langsung dari handphone saya.”
Sebagai mana kita ketahui bahwa Nia adalah seorang artis yang sedang naik daun dan digilai banyak penggemarnya. Dengan demikian pastilah banyak orang yang meregister. Namun jika kita berusaha memakai akal sehat, masak sih ada artis yang pekerjaan sehari-harinya membalas sms dari penggemar? Anehnya, kendati tahu bahwa kita dibodohi, kegiatan semacam ini justru semakin digilai oleh pengguna HP.
Selanjutnya banyak pula hal-hal senada dengan contoh ini, misalnya kita harus meregister untuk mendapatkan SMS berupa banyolan-banyolan, kiat-kiat praktis mencintai dan dicintai, atau berita mengenai hasil pertandingan sepak bola. Selain itu ada juga yang mulai condong berbau judi. Reg (spasi) mobil adalah contohnya. Klien yang meregister akan diundi dalam jangka waktu tertentu untuk mendapatkan mobil. Saya sendiri tidak pernah tahu apakah sudah ada yang mendapatkan iming-iming hadiah yang terbilang fantastis itu. Yang jelas kian hari pengguna HP terus dibodohi dan dibuat nyaris tak (hendak) berpikir.
Dari sekian contoh di atas, saya melihat ada upaya lain untuk menjadikan fasilitas ini sebagai cara alternatif meraih simpatik. Di iklan televisi, saya pernah melihat sebuah iklan untuk meregister dai-dai kondang. Cara seperti ini bisa saja terkesan positif. Dengan beberapa ribu rupiah, kita bisa mendapatkan bahasa hikmah yang dikirim langsung melalui SMS. Namun jika kita berpikir kritis dan membongkar makna ini dengan jeli, maka yang terjadi hanyalah pembiusan karakter. Citra baik yang melekat dari ustad-ustad beken itu dijadikan sarana jualan yang canggih. Jika dulu para ustad hanya mendapatkan uang dari yang mengundang untuk berceramah atau dari produk-produk iklan di televisi, kini mereka mendapatkan langsung dari pengguna HP. Betapa mahalnya sebuah hikmah!
Beberapa waktu lalu, ketika satu hari menjelang bulan suci Ramadhan, kampus Untirta kedatangan Glenn Fredly, salah seorang artis yang lagu-lagunya menjadi nada tunggu pada provider nomor satu di Indonesia. Pamflet-pamflet dan umbul-umbul provider itu pun mengepung kampus. Di satu sisi, saya melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang –tentu saja—menggembirakan mahasiswa. Jarang-jarang ada artis yang ditonton secara gratis. Lalu merekapun bertakbir terus menerus, ”Glenn Fredly, I love you.” Namun betapa jiwa dan pikiran kita sudah betul-betul dibunuh, sehingga Ramadhan yang akan diselenggarakan keesokan harinya itu kehilangan ruhnya. Padahal universitas ini menggunakan nama Sultan Agung Tirtayasa yang memiliki citra religius, ditambah nama mesjid Syech Nawawi al-Bantani yang kita banggakan. Tak dinanya, industri budaya telah mengepung sendi-sendi kehidupan kaum intelektual di Banten sehingga memburamkan entitas kebantenan yang konon religius.
Berdasarkan fenomena ini, saya sendiri tak terlampau hirau. Pada akhirnya semua diserahkan kepada pembaca, toh kesadaran untuk menimang sesuatu yang baik dan buruk adalah fitrah. Saya hanya ingin menekankan bahwa industri budaya yang sekarang kita lakoni harusnya disesuaikan dengan keadaan dan kepentingan yang proporsional.


*) Dosen FKIP Untirta, Presiden Rumah Dunia dan anggota Mazhab Pakupatan.