Senin, 24 Januari 2011

TAMAN BACAAN MASYARAKAT: MASYARAKAT MEMBACA, MEMBACA MASYARAKAT

TAMAN BACAAN MASYARAKAT:
MASYARAKAT MEMBACA, MEMBACA MASYARAKAT [1]
Oleh Firman Venayaksa[2]

Ketika tema “Kiat-kiat Praktis Mengajak Masyarakat Mau dan Mampu Membaca” disodorkan oleh panitia, saya mulai berpikir mengenai batasan-batasan yang hendak saya tulis dalam kertas kerja ini. Yang mampir ke otak saya adalah masyarakat mana yang hendak kita ajak membaca? Siapa yang mengajak Membaca? Jika pertanyaan ini saya jawab dengan hanya mengandalkan intuisi, maka jawaban saya akan merujuk pada masyarakat kelas bawah (grass root) dengan asumsi bahwa “gerakan membaca” memang lebih identik pada masyarakat semacam ini. Asumsi kedua adalah karena Taman Bacaan Masyarakat pun lebih diprioritaskan dan mengada di lingkungan masyarakat pedesaan. Namun demikian, saya akan memulai fokus kertas kerja ini pada persoalan standar yang terjadi di masyarakat Indonesia secara umum.

Budaya Tutur VS budaya Baca-tulis?
Indonesia secara umum bisa dikatakan memegang estafet kebudayaan lisan/ tutur. Hal ini bisa dilihat pada produk-produk budaya tradisi yang ada. Hingga saat ini kita tidak terbiasa memasok bacaan apa lagi tulisan di dalam ruang lingkup keseharian. Imbas dari hal ini pada akhirnya membuat perangkat berpikir kita menjadi lemah dan rentan untuk lupa.
“Mendengar/ menyimak” adalah satu dari empat keterampilan berbahasa yang pasif, karena keterampilan berbahasa ini hanya merespon terhadap orang yang “berbicara.” Menyimak dan berbicara merupakan dua keterampilan berbahasa dalam budaya lisan. Sementara budaya literat (yang kita harapkan) adalah yang lebih mementingkan dua keterampilan berbahasa selanjutnya yaitu “membaca” dan “menulis”. Dalam proses membaca, kita tak hanya mengaktifkan mata sebagai media, tapi juga pikiran, karena keterbacaan akan benar-benar disebut demikian jika pikiran kita aktif. Sementara itu “menulis” juga layak dijadikan sebagai syarat mutlak budaya literat karena proses ini akan menuntut kemahiran yang sistematis. Jika kita merindukan sebuah komunal sosial yang melek huruf (mau baca) secara alamiah, kita tak bisa mengesampingkan keterampilan menulis.
Setelah empat keterampilan berbahasa itu kita pahami, ada baiknya kita mulai mencoba menganalisis tentang masyarakat. Saya tidak akan memulai dengan pendekatan etimologis. Pemahaman masyarakat dari segi teoretis jelas memiliki perbedaan, tergantung sudut pandang masing-masing. Di sini saya lebih melihat klasifikasi yang terjadi dalam masyarakat. Jika melihat dari segi ekonomi-sosial, masyarakat dibagi menjadi tiga sub yaitu kelas atas, menengah dan bawah Dari segi umur kita mengenal masyarakat tua, muda, dan anak-anak  Kegunaan klasifikasi ini adalah untuk memperjelas siapa target masyarakat yang akan kita bidik, karena dalam pendekatan sosiologi, setiap strata adalah unik, sehingga kita harus pintar memakai metode yang sesuai.
TBM dari segi fungsi memang tak jauh beda dengan perpustakaan umum. Ia hadir sebagai pusat dokumentasi, memberikan pelayanan edukasi, informasi dan literasi kendati dengan koleksi yang terbatas. Yang membedakan adalah TBM berfungsi pula sebagai sarana rekreatif. Kita harus sepakat bahwa labelisasi nama akan berimplikasi pula pada karakteritik. “Taman” harus benar-benar difungsikan sebagai sarana rekreatif. Ini menandakan bahwa TBM tak melulu menyajikan bacaan. Disinilah pengelola TBM dituntut lebih cair/ tidak kaku dan menyenangkan.
Sekarang ini TBM harus dapat menjadi fasilitator untuk masyarakat. Saya malah memiliki harapan bahwa TBM menjadi learning center. Di tempat ini TBM bisa berperan dengan fokus yang tak muluk-muluk. TBM harus punya target pengunjung yang jelas. Jika di masyarakat sekitar lebih banyak pekerja sebagai petani, alangkah baiknya jika TBM tersebut lebih memprioritaskan pada buku-buku yang mendukung terhadap pekerjaan masyarakat sebagai tani. Ini membuktikan bahwa kiat-kiat praktispun pada akhirnya harus disesuaikan dengan lingkungan.
Di beberapa TBM yang pernah saya datangi, memang ada yang sudah melangkah sangat jauh, ada juga yang masih jalan di tempat, bahkan belum terlalu menggembirakan. Tentu saja ada banyak faktor yang mengakibatkannya, seperti pengelola yang belum mumpuni, fasilitas yang belum lengkap dan bahan bacaan yang sangat terbatas. Dari pelbagai kekurangan inilah harus diupayakan alternatif, sehingga TBM yang sederhana itu bisa menarik perhatian pengunjung.


Studi Kasus
Saya percaya bahwa “local genius” adalah modal paling sublim untuk mendekatkan antara TBM dengan masyarakat sekitar. TBM akan menarik jika ia hadir dalam pengkhususan. Misalnya TBM berbasis seni dan budaya yang dilakukan Rumah Dunia (RD). Untuk target,  RD hanya membidik anak-anak dan remaja. Target ini diambil dengan asumsi bahwa untuk mengubah Banten yang lebih mementingkan otot dibanding otak, maka diperlukan pangkas generasi. Ketika target sudah jelas, tinggal dilanjutkan dengan fasilitas; terutama bahan bacaan dan media ekspresi, sehinggga paradigma konvensionalpun berubah:
Mengajak anak-anak dan remaja untuk datang ke RD memang tak mudah. Dengan kondisi masyarakat kelas bawah (buruh tani) yang kesehariannya sudah sulit, maka strategi yang diusung pun jelas berbeda. Fokus awal RD adalah anak-anak. Kiat paling praktis mengajak mereka dengan mainan. Pengondisian ini pun membutuhkan waktu yang tak sebentar. Ketika mereka mulai nyaman dengan RD, barulah dilanjutkan dengan membaca dongeng. Di dalam keterampilan berbahasa, proses ini merupakan keterampilan menyimak-berbicara. Sampai sini RD masih mengikuti standar di masyarakat tersebut yang hampir seluruhnya adalah masyarakat dengan kebudayaan tutur yang kuat. Untuk mentransformasi dari budaya tutur (aliterat) menuju budaya baca-tulis (literat) memang perlu pengondisian yang sangat kuat. Mendongeng hanya alternatif saja.
Sementara untuk remaja, RD langsung masuk pada tahap baca-tulis, dengan asmusi bahwa mereka sudah terbiasa dengan dua keterampilan berbahasa selanjutnya (baca-tulis). Relawan RD mengajarkan menulis secara gratis, mulai dari belajar jurnalistik, sastra hingga skenario film. Semenjak awal berdirinya RD memang dibidani oleh para penulis, baik jurnalis maupun sastrawan. Modal inilah yang dikembangkan oleh RD. Lagipula kami sangat percaya bahwa mengajarkan menulis kepada anak muda merupakan cara paling baik untuk mengubah cara berpikir bahwa menulis adalah bagian dari jihad kebudayaan. Dari lima tahun mengajarkan menulis, sudah terbit puluhan buku yang diterbitkan secara indie maupun kerjasama dengan para penerbit nasional.
Dari tulisan sederhana ini saya menyimpulkan bahwa kita-kiat praktis mengajak masyarakat mau dan mampu membaca harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Kiat-kiat praktis atau apapun namanya awalnya memang bertujuan untuk diaplikasikan, dan itu bagus. Namun, di dalam aplikasi ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar kiat, yaitu kita memulai dengan “Plan of Action” (POA). POA adalah suatu garis besar dokumen tertulis dalam bahasa yang sederhana yang menjabarkan tentang rancangan kegiatan apa yang akan dilaksanakan, sumber daya yang tersedia dan tolak ukur yang akan digunakan untuk menjelaskan apakah program telah mencapai sasaran. Tujuan POA disusun  dengan tujuan sebagai berikut:
·                             Sebagai suatu garis besar dokumen tertulis, POA dapat mengembangkan suatu program
·                             Mempertahankan kesinambungan program
·                             Salah satu parameter menentukan keberhasilan program

Dalam membuat POA ini ada lima hal penting yang tak bisa kita abaikan begitu saja, agar kita bisa fokus dengan apa yang akan kita kerjakan. Lima hal itu adalah:
  1. Spesific/ khusus
Pada poin ini, kita akan menjabarkan mengenai siapa target kita, berapa orang dan bagaimana strategi yanga hendak diterapkan. Spesifikasi ini untuk memudahkan kita dalam merancang apa yang akan kita perbuat dalam ruang lingkup pengkhususan.
  1. Measurable/ terukur
Poin kedua mengidentifikasi agar setiap kegiatan yang akan kita lakukan harus bisa dikur keberhasilannya. Tolak ukur ini bisa dilakukan secara kualitatif atau kuantitatif. Pini ini juga sebagai parameter yang menunjukkan apa yang akan dan telah dicapai.
  1. Achievable/ dapat dicapai
Poin selanjutnya lebih fokus pada kegiatan yang realistis; sederhana, terfokus dan efektif.
  1. Relevant/ kesesuaian
Kegiatan harus disesuaikan dengan SDM pengelola dan kebutuhan masyarakat.
  1. Timely/ memiliki batas waktu
Setiap kegiatan yang kita buat harus memiliki target waktu yang jelas sehingga segala macam yang berhubungan, baik materi maupun non materi bisa kita rancang.
Poin-poin di atas mungkin lebih terkesan teoretis dari pada pencapaian tema yang hendak kita diskusikan, namun penting juga kiranya jika segala yang akan kita praktekkan dimulai dari konsep yang jelas, agar kelak kita tak sampai kehilangan arah.



[1] Makalah ini disampaikan pada acara Temu Nasional Pengembangan Minat dan Budaya Baca tanggal 12-14 Juli 2007 di Hotel Patrajasa, Semarang yang digagas oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
[2] Presiden Rumah Dunia dan dosen FKIP Untirta-Banten.