Senin, 24 Januari 2011

UNSUR-UNSUR MORAL DALAM KARYA TUAN DAN HAMBA KARYA LEO TOLSTOY


Oleh FirmanVenayaksa

1. Pendahuluan

Sebuah karya sastra tidak mungkin bisa lepas dari persoalan yang ada di sekelilingnya. Ia tak hanya mengandung imajinasi belaka, tetapi lebih jauh dari itu, dengan meminjam istilah George Lukacs, karya sastra adalah ”cermin” atas kehidupan. Dalam konteks ini, sastrawan tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan hasil karyanya. Cara pandang semacam ini sedikit banyak ”meng-counter” para pemikir strukturalisme yang terlalu menitikberatkan pada wilayah intrinsik.
Tentu setiap teori memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dan hal ini menjadi sangat wajar apa lagi fokus yang dibahas adalah sebuah karya sastra yang sangat luas bahan dan pembahasannya. Namun kiranya penting juga untuk melihat objek bacaan yang dianalisis, yang dikaitkan dengan kebutuhan analisis itu sendiri. Apa lagi jika penulisnya memiliki biografi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia sehingga antara karya yang ditulis dan perkembangan hidupnya sama-sama menarik dan penting untuk diselidiki dan ditautkan. Atas dasar itulah, maka fungsi sosiologi sastra sebagai sebuah cara menganalisis karya sastra sangat penting untuk dilakukan.
Laurenson dan Swingewood (1971) menyimpulkan tiga perspektif mengenai sosiologi sastra:
  1. Penelitian sastra yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan
  2. Penelitian yang mengungkapkan sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya
  3. Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan sosial budaya.

Penjelasan di atas menegaskan bahwa karya sastra tidak hanya memiliki fungsi estetis sebagai sebuah cabang seni tetapi juga bisa dijadikan sebagai dokumen sosial, cermin situasi sosial penulisnya dan turut andil dalam memahami situasi sejarah dan keadaan sosial budaya pada zamannya.
Konsep sosiologi sastra sangat bertolakbelakang dengan apa yang sering didengungkan oleh Roland Barthes menganai pengarang. Ia mengatakan bahwa The Author is dead. Justru di dalam kajian sosiologi sastra pengarang penting untuk ditautkan. Kajian ini ”menghidupkan kembali” kematian pengarang dalam konsep strukturalisme-semiotik.
Di dalam memproduksi sebuah karya sastra, pengarang tidak bisa melepaskan diri dari realitas sosial yang ada di sekelilingnya. Dengan demikian, seperti yang diungkapkan oleh Hegel dan Taine[1] bahwa sastrawan, melalui karya sastranya, berupaya menyampaikan kebenaran yang sekaligus  juga kebenaran sejarah dan sosial. Karya sastra dalam pandangan mereka merupakan dokumen sosial yang monumental. Dengan demikian, karya sastra yang artistik dan bersifat monumental tidak lain dari gambaran tentang suatu zaman tertentu.
Hal ini mempertegas akar konsep sosiologi sastra seperti yang diungkap oleh Abrams. Istilah "sosiologi sastra" dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para kritikus dan ahli sejarah sastra yang terutama memperhatikan hubungan antara pengarang dengan kelas sosialnya, status sosial dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya, dan model pembaca yang ditujunya. Mereka memandang bahwa karya sastra (baik aspek isi maupun bentuknya) secara mudah terkondisi oleh lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu (Abrams, 1981:178).
Atas beberapa kutipan di atas, tulisan ini akan membahas mengenai nilai-nilai sosiologis dalam karya Tuan dan Hamba karya Leo Tolstoy.

Leo Tolstoy dan Peradaban
Rusia sangat beruntung memiliki penulis besar seperti Leo Tolstoy. Tulisannya menyebar ke seluruh dunia dan masih massif dibaca oleh banyak orang hingga pada zaman kini. Itulah salah satu bukti betapa kuatnya karya-karya Tolstoy yang tak lekang dimakan zaman. Bukti-bukti lainnya, karya Tolstoy sangat berpengaruh. Mahatma Gandhi dan Martin Luther King hanyalah salah satu dari sekian nama yang terinspirasi dari gagasannya. Bukan tidak mungkin, ada ratusan bahkan mungkin jutaan pembaca yang menjadikan pemikirannya sebagai salah satu motivasi dalam memperjuangkan martabat hidup di muka bumi ini.
Leo Tolstoy yang dilahirkan di Yasnaya Polyana pada tanggal 9 november 1828 dan meninggal pada 20 november 1910 tidak hanya dikenal sebagai sastrawan. Pengaruhnya justru terletak dari gagasan-gagasannya mengenai ”perlawanan tanpa kekerasan” dan tema-tema di dalam tulisannya yang sangat pro terhadap masyarakat kelas bawah. Ia memiliki pengikut yang luar biasa dan menjadikannya sebagai acuan hidup. Karya besar yang ditulisnya adalah Perang dan Damai dan Anna Karenina yang sudah difilmkan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia termasuk Indonesia.
Rekan-rekan sezamannya sangat menghormatinya, seperti Dostoyevsky yang menganggapnya sebagai yang terbesar di antara semua novelis yang hidup saat itu, sementara Gustave Flaubert menngatakan: "Seorang seniman hebat, seorang psikolog hebat!". Anton Chekhov, yang seringkali mengunjungi Tolstoy di tanahnya di pinggiran kota, menulis: "Ketika sastra memiliki seorang Tolstoy, menjadi penulis itu mudah dan menyenangkan; bahkan bila kita tahu bahwa kita sendiri tidak mencapai hasil apa-apa, itu tidak menjadi masalah karena Tolstoy yang berprestasi untuk kita semua. Apa yang dilakukannya berguna untuk membenarkan semua harapan dan aspirasi yang ditanamkan dalam sastra." Para kritikus dan novelis yang belakangan terus memberikan kesaksian terhadap seninya: Virginia Woolf menyatakan Tolstoy sebagai "yang terbesar di antara semua novelis" dan Thomas Mann menulis tentang seni penulisannya yang tampaknya jujur—"Jarang sekali suatu karya seni yagn begitu mirip dengan alam"—perasaan-perasaan yang juga dimiliki oleh banyak orang lainnya, termasuk Marcel Proust, Vladimir Nabokov dan William Faulkner.
novel-novel otobiografinya, Masa Kanak-kanak, Masa Kecil, dan Remaja (1852–1856), terbitan-terbitannya yang pertama, menceritakan tentang anak seorang tuan tanah yang kaya dan kesadarannya yang bertumbuh perlahan tentang perbedaan-perbedaan antara dirinya dengan teman-teman bermainnya yang keturunan penggarap. Meskipun dalam kehidupannya di kemudian hari Tolstoy menolak ketiga buku ini dan menganggapnya sentimental, banyak dari hidupnya disingkapkan dalam buku-buku ini, mereka masih relevan karena isinya menceritakan kisah yang universal tentang pertumbuhan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa.
Dalam resimen artileri Tolstoy berpangkat letnan dua selama Perang Krim. Ia mengisahkan semua ini dalam bukunya Sketsa-sketsa Sevastapol. Pengalaman-pengalamannya di medan pertempuran menolong dirinya mengembangkan pasifisme, dan memberikan kepadanya bahan untuk gambaran yang realistik tentang kengerian perang dalam karya-karyanya di kemudian hari.
Fiksinya secara konsisten berusaha menyampaikan secara realistik masyarakat Rusia yang ada pada masanya. Orang-orang Kosak (1863) menggambarkan kehidupan dan keadaan bangsa Kosak melalui cerita tentang seorang bangsawan Rusia yang jatuh cinta dengan seorang gadis Kosak. Anna Karenina (1877) mengisahkan cerita-cerita perumpamaan tenang seorang perempuan yang berzinah, yang terjebak oleh kebiasaan dan kepalsuan masyarakat, serta tentang seorang pemilik tanah yang filosofis (mirip sekali dengan Tolstoy), yang bekerja bersama-sama dengan para penggarap di ladang dan berusaha memperbarui hidup mereka.
Tolstoy tidak hanya menggali dari pengalaman hidupnya sendiri tetapi juga menciptakan tokoh-tokoh sesuai dengan gambarannya, seperti misalnya Pierre Bezukhov dan Pangeran Andrei dalam Perang dan Damai, Levin dalam Anna Karenina dan sampai batas tertentu, Pangeran Nekhlyudov dalam Kebangkitan.
Perang dan Damai umumnya dianggap sebagai salah satu novel terbesar yang pernah ditulis, luar biasa luasnya dan keutuhannya. Kanvasnya yang luas mencakup 580 tokoh cerita, banyak di antaranya historis, yang lainnya fiktif. Ceritanya beralih dari kehidupan keluarga ke markas besar Napoleon, dari istana Alexander I dari Rusia ke medan tempur dari Austerlitz dan Borodino. Buku ini ditulis dengan maksud menjelajahi teori sejarah Tolstoy, dan khususnya ketidakberarian pribadi-pribadi seperti Napoleon dan Alexander. Yang agak mengejutkan, Tolstoy tidak menganggap Perang dan Damai sebagai sebuah novel (ia pun tidak menganggap banyak fiksi besar Rusia lainnya yang ditulis pada masa itu sebagai novel). Pandangan ini menjadi kurang mengejutkan bila kita menganggap bahwa Tolstoy adalah seorang novelis dari aliran realis yang menganggap novel itu sebagai kerangka untuk mengkaji masalah-masalah sosial dan politik dalam kehidupan abad ke-19. Karena itu Perang dan Damai (sebetulnya Tolstoy ingin menulis sebuah epil dalam prosa) tidak memenuhi syarat. Tolstoy menganggap Anna Karenina sebagai novel pertamanya yang sesungguhnya, dan memang ini adalah salah satu yang terbesar di antara semua novel realis.
Setelah Anna Karenina, Tolstoy berkonsentrasi pada tema-tema Kristen, dan novel-novelnya yang belakangan, seperti misalnya Kematian Ivan Ilyich (1886) dan Jadi apa yang harus kita lakukan? mengembangkan suatu filsafat Kristen anarko-pasifis yang membuat ia dikucilkan dari Gereja Ortodoks pada 1901.[2]

II. Pembahasan: Unsur-unsur Sosiologis Tuan dan Hamba
Kumpulan cerita Tuan dan Hamba yang ditulis Leo Tolstoy pada tahun 1895, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Herman Maukar[3] terdapat enam judul cerita yaitu ”Tuan dan Hamba”, ”Berapakah luas tanah yang diperlukan orang?”, ”Butir gandum yang sebesar laut”, ”Dua kakek yang tua”, ”Elias”, dan ”Tuhan melihat yang benar, walau ia mungkin lambat mengatakannya.” Dari enam judul cerita itu, secama umum, tema sentralnya dititikberatkan pada urusan sosial masyarakat kelas bawah, kebudayaan dan persoalan religiusitas. Dengan membaca karya-karyanya, kita dibawa pada ruang lingkup sosial di zaman dimana Leo Tolstoy pernah merasakannya.
Untuk menemukan unsur-unsur sosiologis di dalam buku ini, penulis tidak membahas keseluruhan cerita ini karena beberapa judul memiliki unsur sosiologis yang hampir sama.  
Pada cerita ”Tuan dan Hamba” terdapat tokoh Vasilli Andreitch Brekhunoff dan Nikita Stepanitch. Vasilli digambarkan sebagai tokoh ”Tuan” yang memiliki otoritas lebih dibandingkan dengan Nikita yang hanya seorang muzhik (hamba sahaya). Dari segi perwatakan, Vasilli digambarkan sebagai tokoh yang sombong, ingin menang sendiri dan tamak, sementara Nikita sebaliknya walaupun dari latar belakangnya, Nikita pernah menjadi pemabuk. Relasi Tuan dan Majikan di dalam cerita ini sangat menarik. Vasilli menghargai murah sekali Nikita bahkan pembayarannya dilakukan tidak beraturan, bahkan tidak dibayar dengan tunai tetapi ditukar dalam bentuk barang yang dibeli dari toko Vasiilli dengan harga mahal.
Cerita ini dimulai dengan sebuah perjalanan mereka menuju Goviatchkina. Vasilli harus ke tempat itu karena ada urusan bisnis yang harus diselesaikan pada waktu itu juga. Nikita menemani perjalanan. Di tengah perjalanan itulah terjadi banyak peristiwa. Dengan cuaca musim dingin yang sangat ekstrim, mereka kesulitan menuju tempat yang dituju sehingga sering tersesat. Dari situlah mereka bertemu dengan persoalan-persoalan hingga pada akhirnya mereka terkubur di tengah cuaca yang sangat beku. Vasilli meninggal dunia setelah berusaha membantu Nikita agar tidak mati dengan menghangatkan tubuh muzhik itu dengan tubuhnya sendiri. Nikita cukup beruntung dan terselamatkan.
Cerita ”Tuan dan Hamba” lebih panjang dibandingkan dengan cerita lainnya di dalam buku ini. Namun sebetulnya fokus dari cerita ini lebih dititikberatkan pada dua tokoh yaitu Vasilli dan Nikita. Di dalam cerita ini, Tolstoy menggambarkan sosok ”Tuan” secara detail dan tidak berpihak kepadanya. Penggambaran Vasilli sebagai orang kaya diilustrasikan dengan begitu antagonis baik dari sifat maupun perangainya. Misalnya, perjalanan yang dilakukan pada cerita ini dimulai dari keinginan Vasilli sebagai pebisnis untuk melakukan transaksi. Dia tidak mau kehilangan sedetikpun waktu, karena jika itu terjadi maka pebisnis lain akan melangkahinya sehingga dia tak bisa mendapatkan keuntungan.
Citraan orang kaya yang rakus dan membodohi orang lemah muncul pula di dalam relasi antara Vasilli dan Nikita ketika Vasilli menawarkan kuda yang sebetulnya murah tetapi dianggap kuda yang bagus.
Sementara itu, Tolsoy menggambarkan perbedaan yang kontras dengan tokoh Nikita yang masih memunculkan sifat-sifat baik walaupun dia pernah juga digambarkan sebagai seorang pemabuk.
Dari sini kita bisa melihat bagaimana Tolstoy lebih ”memihak” pada tokoh masyarakat kelas bawah. Nikita dijelmakan sebagai sosok yang jujur, patuh dan mengikuti segala keinginan tuannya sebagai konsekuensi dari pekerjaannya.
Di dalam cerita ini, kita juga bisa menangkap unsur sosial lainnya bagaimana orang-orang Rusia pada abad ke-19 sangat menghargai orang-orang yang sedang melakukan perjalanan. Ketika Vasilli dan Nikita melakukan perjalanan, dia disambut dengan hangat oleh penduduk yang menawarkan minuma dan makanan serta perapian untuk menghangatkan badan mereka. Bahkan mereka dibantu untuk menemukan jalan yang benar menuju tempat yang dituju.


Cerita kedua berjudul ”Berapakah luas tanah yang diperlukan orang?” Lebih mengedepankan sisi moralitas. Tokoh Pakhom adalah sosok yang memiliki sifat serakah yang luar biasa. Awalnya ia hanya orang miskin. Lalu ia mulai membeli beberapa tanah dan dengan sangat cepat, ia sudah bisa mengembalikan utang-tangnya bahkan bisa mencicipi kerja kerasnya itu. Namun Pakhom mulai kehilangan kendali. Keserakahan yang bersarang di dalam pikirannya membuatnya tidak pernah merasa bersyukur dan selalu merasa kekurangan, hingga dia menjual tanah yang dia peroleh, pergi ke sebuah tempat dan membeli tanah yang lebih luas lagi dari sebelumnya. Hingga pada suatu waktu,  dia mendatangi orang-orang Bashkir untuk membeli tanah yang diketahuinya dari seorang saudagar. Pakhom melakukan transaksi dengan Starshina (kepala suku) tetapi dengan cara yang berbeda dari pembelian tanah pada umumnya.
”Berapa dessiatin tanah untuk harga itu?” akhirnya Pakhom bertanya.
”kami tidak menghitung dengan cara itu,” kata Starshina. ”Kami hanya menjual menurut harinya. Artinya, sebanyak tanah yang engkau dapat peroleh dengan mengelilinginya jalan kaki dalam sehari, sebanyak tanah itu adalah milikmu. Itulah tawaran kami, dan harganya ialah 1000 rubel” (hal, 105)
Pakhom pun menyanggupi. Dia memimpikan akan mendapatkan tanah yang luar bisa luas. Akhirnya pada waktu yang telah ditentukan, Pakhom pun memulai pekerjaannya dengan mengitari tanah seluas yang dia inginkan. Dia berjalan dengan begitu jauh dan berlari sekuat-kuatnya hingga diapun meninggal. Pada akhir cerita ini, Starshina hanya tertawa dan meminta teman-temannya untuk menguburkan Pakhom di tanah seluas ukuran tubuhnya.
Konsep Leo Tolstoy tentang kehidupan sangat tergambar dalam cerita ini. Tanpa bermaksud menggurui, ia memunculkan sosok Pakhom yang menjadi tokoh sentral dengan parangai yang serakah. Kehadiran cerita ini sebagai salah satu cerita yang dimaksudkan untuk menjadi ”cermin” atas realitas orang-orang Rusia yang sangat menjunjung kekayaan sebagai bagian dari mempertegas predikat hidup. Tolstoy menjadikan tokoh Phakom untuk mengkritik para tuan tanah yang sezaman, melakukan sindiran-sindiran yang sangat tajam. Pada akhir cerita ini Tolstoy mengingatkan kepada para pembaca bahwa seluas apapun tanah yang kita dapatkan di dunia, pada akhirnya kita tak hanya membutuhkan tak lebih dari seluas ujung rambut hingga ujung kaki saja.
Disinilah letak pemikiran-pemikiran Tolstoy yang dilakukan untuk menjadi penyeimbang di antara kerakusan umuat manusia yang tidak bisa mengontrol ego-nya untuk mendapatkan kekayaan sebanyak mungkin. Manusia yang secara fitrah tak pernah merasa puas diabadikan di dalam cerita ini. Konsep pemikiran Tolstoy pada hakikatnya memang mengajarkan kepada manusia untuk hidup penuh kesedarhanaan. Secara sosial, hal ini tergambar dari cara hidupnya yang lebih memilih hidup bersama dengan orang-orang jelata.
Nilai-nilai moralitas di dalam relasi sosial muncul juga pada Cerita ”Elias”. cerita ini sangat singkat dibandingkan judul lainnya di dalam buku ini. Tokoh Elias diceritakan sebagai sosok yang sangat kaya dan baik. Kekayaannya membuat ia menjadi sangat terkenal sehingga siapapun ingin menjalin hubungan dengannya. Namun pada suatu waktu, Elias jatuh miskin. Binatang piaraannya banyak yang mati, sehingga pada usia tujuh puluh tahun, dia dan istinya sangat melarat. Untunglah ada keluarga Muhamadsah yang sangat iba dan mempekerjakannya sebagai petani dan pengurus ternak. Hingga suatu ketika, seorang tamu datang ke rumah Muhamadsah dan mereka kaget mengapa orang sekaya Elias tiba-tiba menjadi miskin seperti sekarang. Elias menjelaskannya dengan bijaksana bahkan ketika ditanya apakah dia lebih bahagia ketika menjadi orang kaya atau miskin seperti sekarang, Elias dan istrinya bersepakat bahwa ternyata mereka lebih banyak menemukan kebahagiaan di tengah orang-orang bersahaja. Ketika kaya mereka tidak ada waktu untuk mendiskusikan tentang hidup bahkan untuk bersembahyang.
Tolstoy menegaskan untuk kesekian kalinya bahwa kekayaan tidak mutlak menjadikan manusia sebagai orang-orang yang berbahagia. Di dalam cerita ini justru dibuat menjadi sangat kontradiktif. Tokoh Elias malah menemukan kebahagiaannya ketika ia dan istrinya dalam keadaan miskin. Dengan begitu mereka bisa memiliki banyak waktu untuk melakukan relasi sosial dengan lebih terarah dan bersembahyang dengan khusyuk.
Semengtara itu, nilai-nilai religi lebih ditekankan pada cerita ”Dua Kakek yang Tua.” Cerita ”Dua Kakek yang Tua” menceritakan mengenai dua tokoh bernama Efim dan  Eliyah yang hendak melakukan ziarah. Kedua sosok ini digambarkan sebagai tokoh yang baik. Hanya perbedaan mereka terletak dari kesibukannya. Efim lebih banyak mengurusi pekerjaannya, sementara Eliyah yang hidup sederhana selalu menagih janji kapan waktunya akan segera berziarah. Akhirnya pada suatu waktu mereka pun melakukan perjalanan. Sayangnya, Efim sangat berberat hati di dalam perjalanan itu. Dia masih mengingat mengenai pekerjaan membuat rumah dan pekerjaan lainnya yang diserahkan kepada anak sulungnya. Dia tidak rela sebetulnya, mengingat anaknya itu sangat boros dan tidak patuh kepada orangtuanya. Di setiap perjalanan, Efim selalu mengingat-ingat tentang segala sesuatu yang ditinggalkannya. Setelah sekita empat minggu mereka melakukan perjalanan, Eliyah tidak seperti Efim yang kuat di dalam perjalanan. Akhirnya Efim melakukan perjalanan sendirian, sementara Eliyah berkehendak istirahat di sebuah gubuk tempat penduduk. Ketika dia bertamu, Eliyah melihat sebuah gambaran perkampungan yang sangat mengenaskan. Kampung itu sangat miskin. Eliyah akhirnya terpanggil untuk mengeluarkan dana perjalanannya membantu mereka. Dia membantu dengan penuh keikhlasan hingga akhirnya kampung tersebut menjadi lebih baik dan terurus.
Sementara itu Efim, tanpa Eliyah sampai di tempat yang dituju. Dia cukup aneh ketika melihat sosok Eliyah di tempat itu, padahal sapaertinya tidak mungkin Eliyah mendahului datang ke tempat itu. Sayangnya selama tiga kali melihat sosok Eliyah di tempat ziarah, ia tidak bisa bertemu langsung dengannya. Hingga ia pun kembali pulang dan bertemu lagi di kampung tempat Eliyah ditinggalkan. Kampung itu jauh berbeda dengan yang ditemuinya dulu. Kini kampung itu menjadi ”hidup” dan jauh dari kemiskinan.
Ketika Eliyah pulang ke kampungnya, benar dugaannya bahwa anaknya kehilangan kendali dan melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran. Sementara itu, pada waktu tertentu Efim bertemu dengan Eliyah yang terlihat sangat berbahagia.
Sebagai seorang kristen ortodoks, Tolstoy memandang bahwa  melakukan ibadah tidak hanya dilakukan dalam peribadahan ilahiyah saja. Justru hal terpenting dari peribadahan adalah bagaiaman sosok manusia bisa menjadi sangat berguna bagi masyarakat lainnya.
Cara pandang itu tercermin dari sosok Eliyah yang lebih mengutakamakn untuk melakukan perubahan terhadap kampung yang ditemuinya, yang penuh dengan kemiskinan dibandingkan langsung datang menziarahi Yerusalem. Efim sebagai tokoh lain, direpresentasikan sebagai sosok tokoh yang tidak memiliki niat bulat untuk melakukan ziarah. Di tengah perjalan dia selalu ingat dengan pekerjaannya di tempat yang ditinggalkan. Hal ini kemudian disangsikan oleh Tolstoy diakhir cerita tersebut.
Keyakinan yang setengah-setengah akan mengakibatkan pekerjaan tidak pernah bisa selesai. Kemungkinan Tolstoy untuk memunculkan cerita ini adalah sebagai kritikan terhadap masyarakat yang lebih mementingkan pemujaan terhadap Tuhan tetapi melupakan esensi manusia itu sendiri yang juga tak bisa melepaskan terhadap fitrah sosialnya yang harus saling membantu antarsesama.




III. Simpulan

Dari hasil pembahasan di atas, didapatlah simpulan yang menjelaskan bahwa Leo Tolstoy tidak hanya menulis dalam konteks untuk menciptakan karya sastra. Tulisannya yang memunculkan realitas masyarakat pada zamannya ingin mengabarkan kepada pembacanya betapa penghormatan terhadap sesama manusia sangat penting untuk dilakukan. Kekayaan yang sering dikejar-kejar oleh manusia ternyata hanya bersifat temporer. Makna paling hakiki adalah dengan melakukan relasi yang seimbang antara manusia dengan tuhan dan manusia dengan manusia itu sendiri.
Di dalam cerita-cerita ini, jelas tergambar bagaimana sosok Tolstoy sangat mengusung nilai-nilai moral di dalam prinsip kehidupannya. Selain itu, cerita-cerita tersebut juga mengajarkan kebersahajaan dan prinsip hidup sederhana sebagai pondasi untuk menemukan kebahagiaan.


[1] Lihat Rene Wellek dan Austin Warren. Teori Kesusastraan (terj. Melani Budianta) (Jakarta, 1990), hal. 111.
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Leo_Tolstoy diunduh pada tanggal 28 Desember 2010
[3] Diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia pada tahun 1983.